60 Persen Hutan Konservasi Dirambah
01 Feb 2011 | Kirim Teman
BENGKULU, KOMPAS.com – Lebih dari 60 persen kawasan hutan konservasi yang berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam seksi wilayah I Bengkulu sudah mengalami kerusakan akibat perambahan.
“Kawasan konservasi di wilayah seksi satu ini kerusakan yang terparah adalah kawasan konservasi TWA Bukit Kaba di mana dari 13.490 hektare, lebih dari 10 ribu hektar sudah dirambah,” kata Kepala Seksi Wilayah I BKSDA Bengkulu, Darwis Saragih di Bengkulu, Senin (31/1/2011).
Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba yang mencakup Kabupaten Kepahiang dan Kabupaten Rejang Lebong sebagian besar dirambah untuk perkebunan palawija dan sebagian untuk pemukiman.
Sedang kawasan konservasi lainnya seperti Cagar Alam (CA) Danau Tes 2.800 ha, CA Danau Menghijau 1.500 ha, CA Mukomuko 600 ha, CA Air Hitam 100 ha, Hutan Produksi Terbatas (HPT) fungsi khusus Pusat Latihan Gajah (PLG) Seblat seluas 6.800 ha dan kawasan konservasi di Pulau Enggano 8.000 ha juga sudah mengalami kerusakan.
“Kecuali kawasan konservasi di Pulau Enggano yang masih bagus karena masyarakatnya lebih mengandalkan hasil laut,” katanya.
Kerusakan kawasan ini kata Darwis sebagian besar diakibatkan perambahan oleh masyarakat yang mengalihfungsikan kawasan menjadi pemukiman dan perkebunan.
Dari enam kabupaten yang berada di bawah pengelolaan seksi wilayah satu yaitu Lebong, Rejang Lebong, Kepahiang, Muko Muko dan Bengkulu Utara memiliki ciri geografis yang berbeda.
Di wilayah dataran tinggi yakni Kabupaten Kepahiang, Lebong dan Rejang Lebong sebagian besar kawasan hutan dirambah menjadi areal kebun kopi dan tanaman palawija.
Di wilayah dataran rendah Kabupaten Bengkulu Utara dan Kabupaten Muko Muko kawasan konservasi dirambah untuk ditanami tanaman sawit dan karet.
Ia mengatakan kerusakan yang terus terjadi ini akan menjadi bom waktu bagi munculnya bencana di sekitar wilayah kawasan hutan.
“Seperti TWA Bukit Kaba yang sangat rawan longsor dan banjir karena banyak hulu sungai berada di kawasan bukit, selain itu perlu diingat bahwa gunung api Kaba masih aktif,” katanya.
Perambahan dan pendirian pemukiman hingga ke lereng bukit menurutnya sangat membahayakan keselamatan jiwa mereka jika sewaktu-waktu gunung api tersebut mengeluarkan lahar.
Artikel lainnya
- Pantai Baron, Pesona di Pesisir Yogyakarta
- Berwisata Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting
- Soft Treking di Rinjani Mulai Dari Rp.150.000!Tertarik?
- Menapak Puncak Gunung Api Tertinggi
- Diperlukan Kajian Lebih Mendalam “Dampak Aktivitas Penyelaman Terhadap Kelestarian Ekosistem Terumbu Karang di Taman Nasional Bunaken”
- Menilik dari dekat persiapan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menuju Penangkar Kupu-kupu terbesar di Indonesia
- Pesona ‘Bukit Teletubies’ di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
- Bantimurung: Kingdom Of Butterfly
- Keunikan Pulau Satonda
- Petualangan Wisata di Taman Nasional Betung Kerihun (4) DAS Kapuas













