Depan » Artikel » Ada Apa Di Suaka Elang, Loji

Ada Apa Di Suaka Elang, Loji

18 Mei 2017 | EmailKirim Teman

Tegakan pinusnya yang teduh menjulang dilengkapi dengan keindahan air terjunnya telah memikat banyak orang untuk datang ke tempat wisata yang letaknya tak jauh dari kota Bogor ini.Ya, tempat wisata yang satu ini memang sangat pantas untuk menjadi destinasi wisata buat warga Bogor, Jakarta dan sekitarnya. Apalagi jarak tempuh yang diperlukan hanya sekitar 1 jam dari kota hujan dengan kondisi jalan aspal yang mulus.

Kemungkinan macet memang selalu ada, karena jalur ini merupakan jalan alternatif Bogor – Sukabumi, yang menjadi pilihan pengendara untuk menghindari kemacetan di jalur utama Bogor – Sukabumi. Tapi yakinlah, perjalanan anda akan terbayarkan saat mata dimanjakan oleh teduhnya hutan pinus yang berkesan syahdu serta gemericik air sungai dan bisikan angin di telinga anda yang menyejukkan jiwa. Setelah sampai di Suaka Elang, Loji, apa sih yang bisa kamu temukan dan lakukan saat berkunjung kesini?

Ini salah satu lokasi favorite pengunjung. Jembatan ini berada di atas sungai sepanjang sekitar 20 meter dan berada di ketinggian 25 meteran dari permukaan sungai. Titian jembatan berupa kayu selebar hampir 1 meter yang ditata diatas tali baja yang menghubungkan ke dua sisi sungai. Jaringan tali dipasang di sisi kanan dan kiri jembatan  yang berfungsi sebagai pengaman. Sensasinya adalah saat menyeberangi jembatan ini, jembatan akan terasa bergoyang ke kanan dan kiri.

Maksimal 3 orang yang diperbolehkan menyeberang disaat bersamaan. Namun sayangnya, peraturan pengelola ini diindahkan sebagian besar pengunjung, terutama yang hobby berselfie. Banyak diantara mereka yang tidak peduli dengan pengunjung lain yang akan menyeberang. Mereka berlama-lama diatas jembatan untuk menuntaskan hasrat menjadi model dadakan.

Pengunjung betah sekali berlama-lama di bawah rindangnya Pinus yang menjulang hampir 40 meter. Topografi disini relatif datar. Perbedaan ketinggian lantai hutan mengesankan bahwa area ini seperti berundak. Dimana di setiap undakan sangat memungkinkan pengunjung untuk mendirikan tenda. Ya, area ini memang dikhususkan sebagai bumi perkemahan. Bagi yang hoby berayun-ayun di hammock, lokasi ini sangatlah tepat. Batang pinus yang lurus dan tinggi sangat memudahkan untuk dipasangi hammock. Tak jarang, pengunjung memasang hammock hingga sampai bersusun lima atau lebih.

Oh ya, memanglah camping akan semakin syahdu jika malam harinya kita bisa menyalakan api unggun. Tapi tunggu dulu. Di area ini tidak diperbolehkan menyalakan api unggun untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan. Sedangkan tempat ini statusnya adalah kawasan konservasi, yang harus kita jaga bersama kelestariannya, agar dapat menjalankan fungsinya sebagai penopang kehidupan manusia. Jika anda suka musik, masih diperbolehkan kok membawa gitar. Namun tetap harus diperhatikan ya, suara musik kalian tidak mengganggu pengunjung lain.

Saat saya kesini, ada rombongan sekolah menengah atas yang sedang mempraktekkan pembuatan video. Tempat ini memang sangat sayang dilewatkan untuk tidak terekam dalam foto maupun video. Ada pula keluarga-keluarga kecil yang berkemah dengan putra-putrinya yang sepertinya masih berusia TK. Duduk-duduk bercengkerama dengan keluarga dan sahabat menjadi pilihan buat pengunjung yang tidak memiliki waktu lama. Beberapa komunitas/kelompok seperti komunitas sepeda dan mahasiswa pecinta alam, memanfaatkan tempat ini untuk menggalang kebersamaan.

Jika ingin berkemah, anda harus membawa tenda sendiri. Disini, pengelola belum menyediakan penyewaan tenda.

Untuk sampai ke Curug atau Air Terjun Cibadak, kita mesti berjalan kaki. Bagi yang sudah biasa mendaki gunung atau lintas alam, waktu yang ditempuh bisa hanya sekitar 30 hingga 45 menit. Jika berjalan santai  perjalanan bisa ditempuh 1 jam 30 menit hingga 2 jam.  Trekking ini masih sangat alami berupa jalan setapak dengan lebar sekitar 1 meter, dan kadang kita jumpai bebatuan besar. Jalur ini terpelihara dengan baik. Petugas selalu siap siaga untuk membersihkan jalur dari dahan yang kadang patah. Udara yang sangat segar dan sejuk membuat perjalanan menjadi nyaman, sehingga mengurangi rasa lelah. Trekking ini sangat memacu adrenalin kita. Semakin kaki melangkah semakin bertambah ketinggian. Namun tentu saja, jangan memaksakan diri. Apabila lelah, maka beristirahatlah sejenak sambil mengatur nafas.

Sepanjang perjalanan, di kanan kiri jalur, mata kita disuguhi hijaunya pepohonan dan tumbuhan. Nah, seiring perubahan ketinggian, maka vegetasi yang kita lewati pun berubah. Dimulai dengan tegakan Pinus, kemudian berganti menjadi hutan campuran. Sementara itu, menjelang air terjun, tumbuhan didominasi jenis jahe-jahean (Araceracea), dengan ketinggian lebih dari dua meter.

 Sekitar 150 meter menjelang air terjun, kita akan melewati jembatan terbuat dari balok-balok kayu selebar 90cm, dengan panjang kira-kira 10 meter. Jembatan ini benar-benar menempel di dinding tebing, dilengkapi dengan pegangan sebagai pengaman. Lepas dari jembatan rupanya masih ada perjuangan lain. Walaupun masih ada tanah yang bisa kita pijak, namun di sisi kira kita lerengnya lumayan curam. Jadi, kehati-hatian sangat diperlukan demi keselataman kita.

Lelah akan terbayarkan saat sampai di air terjun dengan ketinggian mungkin mencapai 30an meter. Air yang tumpah dari balik lebatnya hutan tropis terbelah menjadi dua. Nun di kejauhan, di ketinggian pada sisi kiri, terlihat dua air terjun bersisian. Menurut pengelola kawasan, sebenarnya di area ini ada lima air terjun. Lansekap semakin memikat saat halimun menyelimuti permukaan hutan. Tentu saja debit air terjun sangat dipengaruhi oleh musim. Saat kemarau, air terjun akan sangat kecil alirannya dan sebaliknya deras pada musim penghujan. Dan, pada musim penghujan, pengujung disarankan untuk turun dari air terjun maksimal pada pukul 14.00 untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.  Biasanya, saat penghujan kabut turun dengan cepat sehingga dapat menghalangi pandangan saat trekking.

Ini mungkin menjadi asal muasal kawasan ini dikenal dengan sebutan “Suaka Elang”. Suaka berarti penyelamatan. Apa memang benar ada penyelamatan Elang disini?. Waktu aku kesini, Nopember 2016, terdapat 5 ekor Elang; Elang Brontok dan yang satunya aku lupa. Tiga ekor elang dalam tahap habituasi yaitu persiapan untuk dilepaskan ke alam bebas. Sedangkan dua ekor elang lainnya masih dalam tahap rehabilitasi. Pengunjung diperbolehkan untuk mendekati Elang-elang yang berada dalam kandang besar. Perbaikan kandang dan jalan menuju kandang rupanya sedang dilakukan. Oh ya, Elang merupakan salah satu binatang endemik yang tinggal di taman nasional ini

Dari kota Bogor, ambil jalur menuju Cijeruk/Cihideung Perjalan dapat ditempuh dengan cara :

  1. Dari stasiun Bogor dapat berjalan kaki menuju Bogor Trade Mall kira-kira 600meter atau naik angkutan umum no. 02 jurusan Sukasari, turun di seberang pintu utama kebun raya. Selanjutnya jalan kira-kira 100 meter ke Bogor Trade Mall. Perjalanan dilanjutkan dengan angkutan 04 tujuan Cijeruk/Cihideung. Pada saat pemberhentian terakhir, perjalanan dapat dilanjutkan dengan sewa ojeg hingga lokasi. Dari tempat parkir menuju hutan Pinus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menitan.
  2. Jika menggunakan kendaraan roda empat/roda dua, dari tugu Kujang ikuti jalur lalu lintas. Sesaat sebelum Bogor Trade Mall, ambil jalur menuju Cijeruk/Cihideung. Jika mengenal Warso Farm, lanjutkan perjalanan hingga sampai ke kampung Ciburayut. Perhatikan papan bertuliskan “Loji” berwarna putih dengan latar belakang hijau. Ikuti jalan hingga sampai ke SD Ciburayut/lapangan, kemudian belok ke kanan dan ikuti petunjuk.

Berkegiatan di alam bebas sangat dipengaruhi oleh faktor cuaca, apalagi Bogor dan sekitarnya dikenal dengan curah hujannya yang tinggi. Maka sebaiknya perlengkapan dibawah ini, selalu menemani perjalanan anda :

  1. Baju dan sepatu memadai untuk melakukan aktivitas di alam bebas. Tidak disarankan memakai sandal jepit atau sepatu dengan alas rata/tanpa grip.
  2. Payung, jas hujan
  3. Makanan dan minuman secukupnya. Sebaiknya air putih dan makanan yang berkalori tinggi (di tempat ini tidak ada penjual makanan/minuman)
  4. Baju ganti
  5. Obat-obatan pribadi
  6. Kantong plastik untuk wadah jika tiba-tiba hujan turun

Untuk urusan pribadi, tidak usah khawatir. Tak jauh dari Camping Ground tersedia toilet yang terjaga kebersihannya, dengan air yang jernih dan melimpah. Kalian juga harus ikut menjaga kebersihan toilet setelah memakainya ya.

Suaka  Elang, Loji, merupakan bagian dari kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, yang berada di Resort Pengelolaan Salak I.Secara administratif terletak diKampung Loji, Desa Pasirjaya Kec.Cijeruk Kab.Bogor, Jawa Barati. Nah, sebagai pengunjung yang baik, sudah menjadi kewajiban kita untuk taat pada peraturan yang dikeluarkan oleh pengelola yaitu Balai Taman Nasional Gunung Halimun Salak.  Termasuk diantaranya membeli tiket masuk di pos tiket sebelum masuk ke kawasan. Selain itu, akan jauh lebih baikanda membawa  pulang sampah anda agar hutan tetap bersih dan lestari.

Ingat-ingat kawan, pesan berikut saat berkegiatan di alam bebas :

  1. Take Nothing But Pictures
  2. Leave Nothing But Foot Print
  3. Kill Nothing But Times
  4. Keep Nothing But Memorie

Ayo ke Taman Nasional!

[teks&foto | ©PJLHK | 18052017 |triwin]