Depan » Artikel » Artikel Terakhir

Artikel Terakhir

EmailKirim Teman

Arumono-Sagashi, Metode Fasilitasi Pemberdayaan Masyarakat

Mendengar nama Arumono-sagashi tentu tak akan asing di telinga kita.  Pasti itu adalah bahasa jepang.  Ya, itu adalah sebuah phrase Jepang yang memiliki arti sangat bermakna, terdiri dari dua kata;, arumono dan sagashi.  Secara literal, arti dari arumono adalah sesuatu yang ada/eksis dan sagashi adalah pencarian atau penggalian. Jika digabungkan, akan berarti penggalian sesuatu yang sebenarnya sudah ada.

Tentu kita akan bertanya mengapa menggali sesuatu yang sudah ada. Ternyata maksud dari sesuatu yang sudah ada ini adalah hal yang ada sejak lama atau dari masa lalu, namun karena perkembangan jaman sesuatu/hal tersebut menjadi seperti hilang.  Maka dari itulah perlu di gali arumono tersebut. Dan penggalian ini dijadikan sebagai sutau metode dalam fasilitasi pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Sebuah lembaga konsultan Jepang, ii-net, yang dikontrak melalui proyek Indonesia-Jepang REDD+ (IJ-REDD+)  menyampaikan metode ini dalam sebuah training fasilitasi pemberdayaan masyarakat, akhir Januari lalu, kepada Polhut dan PEH Taman Nasional Gunung Palung.

Bagaimana kah penerapan metode ini, akan kita ulas.  Penerapan metode ini mudah untuk diingat melalui sebuah kata “FALCON” sebagai singkatan dari tahapan proses yang harus dilalui.  FA dari kata facilitate yang artinya fasilitasi. L dari kata listening yang artinya mendengar dan CON dari kata conversation yang artinya percakapan.  Jadi Arumono-sagashi diterapkan sebagai satu metode fasilitasi yang dilalui melalui tahapan mendengarkan dan percakapan.

Fasilitasi yang dimaksud disini adalah membuat seseorang mudah. Dalam artian mudah untuk bercerita, mengingat, mengkaitkan sesuatu dan mudah untuk menemukan.  Caranya, seorang fasilitator dengan bermodalkan hanya mendengar sebuah cerita yang ada atau harapan dari masyarakat di suatu desa, akan mengingatkan beberapa hal penting yang diketahui oleh masyarakat. Tentunya interakasi yang dilakukan dalam proses mendengarkan ini tidak hanya sekali, hanya sekedar bertandang maupun pada saat ada momen penting di desa tersebut.

Setelah mendengarkan adalah percakapan. Dalam proses menggali, kata kunci yang digunakan dalam fasilitasi yang baik adalah 4 W + 1 H (what, when, where, who dan how).  Penggalian informasi ini dimulai dari apa sesuatu yang akan diceritakan/didengarkan, kemudian kapan waktu yang tepat untuk bercerita, siapa yang menceritakan dan dimana sebaiknya tempat yang cocok untuk bercakap-cakap.

Sebagai fasilitator, dalam  menggali sesuatu maka perlu mendapatkan informasi yang sedetil-detilnya.  Kata kunci tersebut (4W+1H) bisa juga digunakan sebagai penggalian data informasi terkait sesuatu atau arumono; apakah sesuatu itu, langkah-langkahnya, kemudian dimana tepatnya arumono itu bisa dilaksanakan/ditemukan, kapan dapat diterapkan dan seterusnya.

Kedua proses tahapan tersebut mudah untuk diterapkan.  Namun, manfaat yang didapat adalah sesuatu yang memang berguna bagi masyarakat atau bahkan bagi pembangunan masyarakat tersebut.  Sebagai pengalaman, direktur ii-net mengutarakan bahwa melalui metode Arumono-sagashi, beliau dapat menemukan cara tradisional pengawetan benih di Afrika yang sudah diabaikan oleh generasi muda.  Kemudian cara pengawetan ini dikembangkan kembali di kelompok masyarakat untuk ketahanan pangan di desa tersebut. Pengawetan benih ini dikombinasikan melalui pengetahuan dan teknologi yang ada.

Pengalaman lain yang dilakukan oleh pemateri yaitu selama lima tahun berinteraksi dengan masyarakat di dekat kawasan taman nasional di Jepang, beliau berhasil mendapatkan apa yang diharapkan masyarakat dari adanya kawasan taman nasional di sekitar mereka.  Berangkat dari mendengarkan harapan, keinginan, pola hidup masyarakat di sekitar lalu ditemukanlah aspek-aspek pemberdayaan serta pembangunan yang tepat bagi masyarakat di sekitar kawasan tersebut.

Bertolak dari kedua pengalaman tersebut di atas, serta dari metode Arumono-shagasi maka merupakan sesuatu hal yang mungkin pula untuk kita terapkan di sekitar kawasan konservasi.  Di dalam sebuah kelompok masyarakat adat maupun lokal, pasti ada suatu kearifan yang berprinsip pada konservasi dan mendukung upaya konservasi sumberdaya alam.  Tinggal bagaimana kita menggali kearfian tersebut atau mencari harapan masyarakat sekitar untuk pembangunan masyarakat itu sendiri.  Upaya ini tentunya bermanfaat dalam pengelolaan kawasan konservasi sehingga masyarakat diberdayakan berdasarkan kearifan yang ada di kelompok mereka sendiri. Ataupun, masyarakat diberdayakan berdasarkan harapan yang diinginkan mereka sendiri.  Tentunya harapan kita bersama adalah dengan cara seperti itu, keberhasilan yang diperoleh lebih bagus. 

[foto dan teks |©PJLKKHL |24022015 | lana]