Depan » Artikel » Artikel Terakhir

Artikel Terakhir

EmailKirim Teman

Sambutan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dalam Acara Peringakatan Hari Konservasi Alam Nasional 2016

SAMBUTAN

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN

DALAM ACARA PERINGATAN

HARI KONSERVASI ALAM NASIONAL (HKAN)

TAHUN 2016

Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Syalom, Salam sejahtera,

Oom swastiastu

  • Yth. Gubernur, Pimpinan DPRD Provinsi dan Forkompimda Provinsi;
  • Yth. Bupati/Walikota, Pimpinan DPRD dan Forkompimda Kabupaten/kota;
  • Para pejabat sipil dan militer;
  • Para Pimpinan BUMN, BUMD, dan dunia usaha;
  • Pimpinan Perguruan Tinggi, Akademisi;
  • Para Pimpinan Organisasi/Lembaga serta Tokoh Masyarakat, Aktivis lingkungan dan konservasi, insan media; dan
  • Hadirin yang berbahagia,

 

Dengan senantiasa mengharapkan ridha Allah dan mengucapkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, hari ini kita kembali bersama  dalam rangka memperingati Hari Konservasi Alam Nasional tahun 2016, yang mengusung tema: “Konservasi Untuk Masyarakat.” Peringatan hari konservasi  ini penting  dengan beberapa pertimbangan:

Pertama, kita mensyukuri karunia   Maha Pencipta kepada Bangsa Indonesia, negeri yang dikarunia sumber kekayaan alam   dan keaneka-ragaman hayati yang luar biasa, termasuk yang terbesar di dunia bersama-sama dengan China dan Brazil.

Kedua,  merupakan wahana untuk mengingatkan  tugas  kita agar  senantiasa menjaga karunia Yang Maha Kuasa, melalui upaya konservasi sumber daya alam,  baik untuk generasi sekarang maupun bagi generasi yang akan datang.

Ketiga, konservasi merupakan prasyarat dalam upaya penataan kewilayahan dan isinya yang selalu kita kenal sebagai pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat. Konservasi hadir bersama-sama dalam pertimbangan perencanaan pembangunan wilayah dan daerah.

 

Hadirin yang Berbahagia,

Upaya-upaya konservasi antara lain kita lakukan mengacu pada Undang-Undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya.  Sesuai Peraturan Menteri Kehutanan telah ditunjuk dan ditetapkan hutan konservasi seluas sekitar 27 juta hektar, yang menurut fungsinya dikelola sebagai  Taman Nasional sebanyak 51 unit,  Taman Wisata Alam 123 unit,  Taman Hutan Raya 27 unit,  Taman Buru 11 unit, Cagar Alam 220 unit, Suaka Margasatwa 77 unit, serta KSA-KPA 49 unit. Masing-masing jenis kelola konservasi tersebut memiliki keindahan, keunikan, kekhasan, keaslian maupun keanekaragaman hayati.

Hingga saat ini di Indonesia dikenal atau didapati sekitar 90 tipe ekosistem yang menyebar di kawasan-kawasan konservasi,  mulai dari salju tropis abadi di puncak Gunung  Jaya wijaya (terletak di Taman Nasional Lorenz-Papua), hutan tropis baik yang ada di pegunungan maupun dataran rendah, padang rumput, savana, lahan basah, sungai, danau, rawa, hutan pantai, muara, pesisir, mangrove, padang lamun, dan terumbu karang, hingga gugusan karang atol terbesar ketiga di dunia (yang terletak di Taman Nasional Taka Bonerate-Sulawesi  Selatan).

Beraneka-ragamnya ekosistem diikuti pula dengan aneka ragam jenis tumbuhan dan satwa.  Tercatat ada 27.500 jenis tumbuhan berbunga (berkontribusi sekitar  10% tumbuhan berbunga di dunia), 515 jenis Mamalia (berkontribusi 12% Mamalia di dunia), 781 jenis Reptile dan Amfibi (berkontribusi 16% reptile dan Amfibi di dunia), 1.539 jenis burung (berkontribusi 17%  jenis  burung di dunia) serta lebih dari 25% jenis ikan laut dan tawar di dunia yang terdapat di Indonesia.

 

Bapak, Ibu, Hadirin yang kami hormati,

Keberadaan kawasan konservasi dan keanekaragaman hayati di dalamnya, penting kita pahami bukan saja sebagai kekayaan alam yang harus kita jaga, namun juga harus memiliki arti dan makna memberikan kemanfaatan untuk negara dan bangsa Indonesia. Kemanfaatan tersebut berupa manfaat jasa ekosistem atau jasa lingkungan kawasan konservasi, yang dapat dikelola  sesuai peraturan perundangan.

Cakupan manfaat jasa lingkungan dalam praktek pengelolaan kawasan konservasi saat ini, telah mengalami perkembangan, sejalan dengan perkembangan jaman.  Sebagai contoh, memahami manfaat kondisi lingkungan atau jasa lingkungan pada periode 1990 – 2005 yang lalu masih terbatas antara lain pada pemanfaatan keindahan bentang alam, yang diterapkan dalam pengembangan wisata alam di taman nasional, taman wisata alam, dan taman hutan raya.

Dalam periode 10 tahun terakhir ini, cakupan pemanfaatan jasa lingkungan ternyata mengalami perubahan, yang rambu-rambunya tetap dalam regulasi  yang disesuaikan menurut perkembangan sosiologi masyarakat.  Satu contoh dari perubahan tersebut adalah dimungkinkannya pemanfaatan air dan energi air yang terdapat di dalam kawasan suaka margasatwa, taman nasional, taman wisata alam, dan taman hutan raya, dengan persyaratan-persyaratan yang ditentukan.

Pendekatan ini mempertegas bahwa keberadaan kawasan konservasi selain untuk kepentingan pelestarian, juga harus menjadi penopang utama pengembangan wilayah-wilayah pertumbuhan di berbagai provinsi. Oleh karena itulah  pengelolaan  kawasan konservasi  sudah harus diangkat konteks kewilayahannya berupa dukungan kawasan sebagai sumber  daya tarik wilayah untuk menjadi pusat-pusat pertumbuhan yang memberi nilai kesejahteraan bagi masyarakat dan menumbuhkan denyut kehidupan ekonomi daerah.

Kami sampaikan penghargaan dan ucapan terima kasih kepada daerah-daerah yang telah merintis integrasi pelestarian lingkungan dan pembangunan pola ini, seperti rencana pengembangan wisata alam di Taman Wisata Alam Kawah Ijen, dengan keunggulan fenomena alam yang dikenal dengan sebutan “Blue Fire”,  dan Pemda Kabupaten Banyuwangi  bekerja keras bersama stakeholders mewujudkan kawasan wisata alam tersebut yang menarik  wisatawan mancanegara. Juga Pemda Kabupaten Siak yang mendeklarasikan diri sebagai Kabupaten Hijau dan membangun wilayahnya dengan keseimbangan pelestarian  alam;  dan dalam  upaya  bersama pemerintah pusat menjaga kawasan Giam Siak dan mengembangkan  Taman Nasional Zamrud. Juga terima kasih kepada Pemerintah Kota Prabumulih yang sudah secara tegas menetapkan  bersih dari penambangan yang polutif.

Begitu pula kami sampaikan penghargaan dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur yang bekerja keras menetapkan bentang alam Wehea-Kelay sebagai Kawasan Ekosistem Esensial   Koridor  Orangutan pada bulan April 2016 seluas 308.882 ha, yang dikelola secara kolaboratif antara perusahaan HPH, HTI, perkebunan sawit dan masyarakat adat untuk melindungi populasi orangutan sebanyak kurang lebih 2.500 individu.  Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada  para Gubernur pendukung dan pendorong upaya-upaya pengendalian perubahan iklim,  para Gubernur  dan bupati/walikota pemrakarsa provinsi dan kabupaten/kota hijau seperti Gorontalo, Papua dan lain-lain.  

Pemerintah pada tingkat nasional,  terus mendorong hadirnya hutan-hutan baru di tengah-tengah masyarakat dalam bentuk Taman Hutan Raya atau Kebun Raya atau bahkan “hutan mini” seluas lebih kurang sepuluh meter persegi  di halaman rumah masyarakat sendiri. Upaya bersama dan masif seperti ini akan sesegera mungkin mengangkat kembali fungsi alam yang normal dan kita akan dapatkan lingkungan alam yang lebih nyaman selain adanya jaminan keselamatan ketersediaan swadaya alam bagi generasi yang akan datang, yang kita sebut sustainability atau keberlanjutan.

 

Hadirin  yang kami hormati,

Agenda konservasi juga menjadi sangat penting dalam konteks lingkungan global. Secara prinsip kawasan konservasi merupakan kawasan hutan negara yang dinilai paling sensitif dan paling sedikit mungkin  terhadapnya terkena langkah-langkah intervensi manusia. Intervensi kepada kawasan ini harus betul-betul mempertimbangkan keseimbangan ekosistem. Kawasan konservasi merupakan tabungan kehidupan dan sumber penopang kehidupan manusia (life support system). Oleh karenanya dalam agenda pengendalian perubahan iklim di dunia dan di berbagai negara  serta di wilayah-wilayah kita di Indonesia, peran agenda konservasi menjadi sangat penting. Tidak saja sebagai indikator bahwa sistem penopang kehidupan manusia ini masih berjalan, akan tetapi juga  sebagai wujud nyata bahwa alam kita pelihara dan jaga dengan baik.

Sebagai contoh adanya beberapa ekosistem esensial dan khusus seperti kawasan Ekosistem Esensial Lahan Basah dan Mangrove Rawa Pacing di Kabupaten Tulang Bawang Barat, Lampung, Kawasan Ekosistem Esensial Mangrove Jaring Halus di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Kawasan Ekosistem Esensial Karst Sangkulirang Mangkalihat di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur serta habitat peneluran penyu dan burung Maleo di Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ciptaan Tuhan tersebut tidak ada duanya, sehingga kita sebut sebagai ekosistem esensial atau ekosistem penting.

Agenda pengendalian perubahan iklim berorientasi pada upaya mengatasi indikasi alam, dengan kecenderungan pemanasan global, kenaikan suhu bumi yang berbahaya bagi sistem penopang kehidupan manusia.  Hubungan kausalitas perubahan iklim  juga telah mewarnai tata kelola hutan, tidak terkecuali hutan konservasi. Untuk itulah menjadi penting  agenda-agenda konservasi yang kita jalankan di seluruh penjuru tanah air Indonesia, untuk  dapat mengatasi agar kenaikan suhu udara di bawah angka 2 derajat Celcius.

Hadirin yang kami hormati,

Peringatan HKAN setiap tanggal 10 Agustus merupakan momentum untuk terus memasyarakatkan konservasi alam sebagai komitmen seluruh unsur bangsa. Komitmen yang memperkuat tekad kita untuk memelihara sekaligus memanfaatkan potensi kawasan hutan konservasi yang kita miliki sebagai upaya terus menerus dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.   

Melalui peringatan HKAN ini diharapkan kesadartahuan pentingnya konservasi alam semakin meningkat, menggalang semangat, memotivasi masyarakat  dan pemahaman akan pentingnya menyelamatkan ekosistem alam dengan tidak melakukan kerusakan, menanam jenis-jenis tanaman endemik dan jenis langka,  melepas satwa liar yang dilindungi ke habitat alamnya, menghindari penggunaan barang-barang yang tidak terurai seperti plastik, mengelola sampah, dan yang penting juga tidak melakukan pembakaran lahan yang bisa merembet ke hutan, serta turut berpartisipasi dalam pencegahan pembalakan liar; demikian pula untuk ikut mengawasi adanya peredaran liar terhadap satwa dilindungi.

Berkenaan dengan   satwa yang  dilindungi, kita cukup prihatin dengan masih munculnya gambaran upaya memburu satwa yang dilindungi tersebut untuk tujuan perdagangan satwa dilindungi seperti anak orangutan, harimau, beruang madu, dan berbagai jenis burung;  dan atau perdagangan jenis bagian tertentu satwa liar dilindungi yang dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi seperti gading gajah, kulit dan taring harimau, paruh burung rangkong, dan empedu beruang madu. Mari kita jaga bersama dan ikut bersama-sama pula memberantas perilaku ilegal tersebut, termasuk yang kerap muncul di media sosial.

Presiden RI telah memberikan contoh secara langsung kepada kita semua untuk memelihara keberlangsungan hidup satwa liar baik yang dilindungi maupun yang tidak dilindungi di alam bebas.  Beberapa kali bersama-sama masyarakat atau dalam lingkungan di istana, sendiri, beliau lakukan pelepasan satwa. Ini memberi pesan kepada kita semua bahwa satwa sedapat-dapatnya diberikan kebebasan berada di tempatnya, di alamnya, di habitatnya.

Sejak tahun 2015 lalu, tanggal 8 Agustus 2015,  bertempat di Taman Nasional Ujung Kulon kita deklarasikan komitmen yang kuat untuk melakukan konservasi keanekaragaman hayati. Untuk menyegarkan kembali komitmen kita bersama, berikut adalah Deklarasi Konservasi dimaksud. : ”Kita dianugerahi dengan keanekaragaman hayati yang sangat kaya dan berlimpah. Sebagai wujud syukur, kami berkomitmen untuk lebih memaknai arti keanekaragaman hayati untuk kehidupan manusia. Oleh Karenanya, kami bertekad untuk melestarikan, mempelajari, dan memanfaatkan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan”.

Bersama-sama mari kita wujudkan komitmen itu, selain terus menerus kita dengungkan, agar tidak lupa dan lengah, karena untuk alam ini kita tidak boleh sedikitpun lengah atau lalai, yang dapat berakibat  buruk menjadi bencana. Dukungan sangat penting dan dibutuhkan dari pimpinan wilayah/daerah, pejabat sipil dan militer, pejabat pusat dan daerah serta komunitas masyarakat, akademisi, profesionalis, aktivis dan para tokoh masyarakat (tomas), tokoh agama (toga)  dan tokoh adat (todat) dan media merupakan unsur sangat penting dalam upaya kita menjaga alam ini, bersama-sama menjaga keutuhan kawasan konservasi dan menghindarkan dari kerusakannya.

Bapak, Ibu, Saudara yang berbahagia

Akhirnya, saya sampaikan ucapan selamat kepada peserta Jambore Nasional Konservasi Alam 2016, para Kader Konservasi, Kelompok Pecinta Alam, Kelompok Swadaya Masyarakat dan Kelompok Profesi termasuk penyuluh kehutanan, polisi kehutanan dan jagawana yang selama ini sudah banyak melakukan upaya konservasi alam. Penghargaan dan terima kasih kami atas dedikasi saudara dalam menyelamatkan ekosistem alam negeri kita tercinta.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada upaya-upaya kita ini. Aamiin ya robbal alamin. Terima Kasih.

 

Billahitaufiq Walhidayah,

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

Oom santi santi santi oom

 

Karangsewu-TN Bali Barat, 10 Agustus 2016

MENTERI LINGKUNGAN HIDUP

DAN  KEHUTANAN

           Ttd,

SITI NURBAYA

 

 

 

Download Naskah Pidato

 

[teks | @PJLHK | 10082016 |Mas'ud]