Depan » Artikel » Artikel Terakhir

Artikel Terakhir

EmailKirim Teman

Baluran Tak Cuma Savana

Taman Nasional Baluran itu identik dengan savanna, banteng, serta hutan musim dan hutan evergreen-nya. Hal itu dapat dengan mudah diketahui dari banyaknya tulisan di majalah maupun media cetak lain. Padahal Baluran itu ndak hanya cantik di atasnya, tapi ia juga cantik di dunia bawah airnya.
Salah satunya ditandai dengan masih baiknya keanekaragaman hayati yang terdapat di padang lamun Taman Nasional Baluran. Seperti yang saya alami di padang lamun Pantai Bama. Tempat itu bisa membuat orang ketagihan snorkling di saat airnya pasang, atau jalan-jalan santai saat air laut surut.
Saya sendiri belum terlalu sering ngubek-ubek padang lamun Baluran. Paling cuma di seputar Pantai Bama dan sekitarnya sampai ke blok Popongan saja. Dari mulai pertama kali nyemplung di Pantai Bama di akhir tahun 2008, sampai sekarang saya masih agak cukup sering ke sana. Minimal dua kali dalam setahun. Dalam beberapa kali kunjungan itulah saya melihat bahwa biodiversitas fauna akuatik di Bama sungguh luar biasa. Baik dari ikan, crustacea, mollusca, echinodermata, sponge dan juga cnidaria.
Antara periode 2008-2011 itu, saya mencatat bahwa sedikitnya terdapat 110 spesies ikan yang sliweran di terumbu karang dan padang lamun Bama. Kemudian ada 25 spesies echinodermata, 28 spesies crustacea dan 54 spesies mollusca. Angka-angka tersebut masih minimal, karena saya yakin sebenarnya masih banyak sekali spesies biota yang belum teramati oleh saya. Terutama sekali crustacea dan mollusca. Untuk dua filum tersebut, yang teramati dan teridentifikasi baru spesies yang ukurannya cukup besar, sementara yang imut-imut belum (termasuk yang epifit dan asosiasi lamun).
Biasanya saya memulai pengamatan biota dari garis pantai. Sebentar saja berjalan macam-macam jenis siput, teripang, kepiting dan udang-udangan sudah menyambut. Mungkin yang paling mudah ketemu salah satunya adalah si teripang Holothuria atra yang bentuknya naudzubillah itu. Bulat panjang, ginjur-ginjur menggelikan dan warnanya hitam pula. Kalau terinjak atau kepencet, keluar air dari mulutnya.
Di antara daun-daun lamun juga cukup sering ditemui Synapta maculata. Sekilas teripang ini seperti tidak “berdaging”. Kalau diangkat dari air jadi kempis, tapi langsung gemuk lagi kalau dicelupkan.
Echinodermata lain yang cukup melimpah adalah bintang laut Archaster typicus. Sebarannya terutama di depan mangrove Pantai Bama yang hanya sedikit ditumbuhi lamun. Individu-individu bintang laut tersebut sering tampak bertumpuk-tumpuk, yang menandakan lagi mating alias kawin. Bintang laut lain yang mencolok adalah si biru Linckia laevigata berlengan lima. Jika sedang beruntung, kadang-kadang juga ketemu sama yang lengannya cuma 4, atau malah 6, dan bahkan 7 lengan.
Dari grup Crustacea, paling mudah bertemu dengan rajungan hijau (Thalamita crenata), terutama saat malam hari. Kemudian ada juga kelomang (Diogenes spp), udang-udang Palaemonidae, Menaethius, Liomera, Atergatis, Eriphia dan lain-lain. Nah, sedikit tips dari saya, bila ingin ketemu dengan crustacea unik dan imut, cobalah untuk meng-utek-utek anemon laut atau soft coral yang ukurannya cukup besar. Di sela-sela tentakelnya biasanya ada kepiting Neopetrolisthes maculatus yang bertotol-totol merah atau udang Periclimenes brevicarpalis dan Thor amboinensis. Mereka terlihat sangat cantik.
Lanjut lagi, bila beruntung kita bisa ketemu dengan siput imut berwarna-warni alias nudibranch, seperti Phyllidia varicosa dan Phyllidiella pustulosa. Jenis gastropod ukuran besar dengan warna menarik juga melimpah. Contoh yang mudah ditemui adalah Cypraea tigris, Conus marmoreus dan Conus litteratus.
Terakhir, saya ingin membagi sedikit renungan-renungan saya. Meskipun diversitas faunanya luar biasa, secara visual saya melihat bahwa di waktu akhir-akhir ini (2010-2011) tampaknya terjadi penurunan kelimpahan jenis-jenis tertentu. Utamanya spesies yang berukuran sedang hingga besar. Sehingga saya sempat merasa sensasi ramainya padang lamun Bama tidak lagi seperti dulu. Meski demikian, saya masih merasa bahwa padang lamun Pantai Bama dan pesisir Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya area padang lamun dengan kondisi baik yang tersisa di pesisir Jawa timur.
Nah, agar kita bisa turut menjaga ekosistem padang lamun, sebaiknya kunjungan ke tempat tersebut dilakukan dengan cara snorkling saat air laut pasang. Sehingga tidak langsung menginjak tegakan lamun dan juga tidak menginjak biota yang hidup dan ber-sliweran di antaranya. Jika terpaksanya melakukan kunjungan saat surut, sangat disarankan untuk hati-hati dalam melangkah. Pilih area yang tidak bervegetasi sebagai pijakan kaki sehingga tidak mencelakai biota dan diri sendiri.
Demikian pengantar pengamatan ekosistem padang lamun dari saya. Selamat mengamati dan salam biodiversitas.

[sumber : muzaki F@www.fobi.web.id|@lfi|13022012]