<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Direktorat PJLKKHL</title>
	<atom:link href="http://ekowisata.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekowisata.org</link>
	<description>PHKA - Kementerian Kehutanan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 05:51:03 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Menaklukan Gunung Gede</title>
		<link>http://ekowisata.org/menaklukan-gunung-gede/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/menaklukan-gunung-gede/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 05:51:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[gunung gede pangrango]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2348</guid>
		<description><![CDATA[detikTravel Community - Gunung Gede adalah salah satu gunung yang harus ditaklukan bagi para pendaki. Gunung yang termasuk dalam wilayah Taman nasional Gede Pangrango di Jawa Barat ini, menjanjikan keindahan alam dan hijaunya hutan. Siapkan diri&#160;<a href="http://ekowisata.org/menaklukan-gunung-gede/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 288px"><img title=" " src="http://www.gedepangrango.org/wp-content/uploads/2012/02/img_20120208173703_4f32504f4afc6.jpg" alt="" width="278" height="186" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p><strong>detikTravel Community - </strong>Gunung Gede adalah salah satu gunung yang harus ditaklukan bagi para pendaki. Gunung yang termasuk dalam wilayah <strong><a href="http://www.gedepangrango.org" target="_blank">Taman nasional Gede Pangrango</a></strong> di Jawa Barat ini, menjanjikan keindahan alam dan hijaunya hutan. Siapkan diri Anda!</p>
<p>Sekitar bulan november 2011, saya berangkat ke Gunung Gede, Bogor, Jawa Barat bersama teman-teman pecinta alam dari almamater saya FEUI (Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia). Saat itu sudah musim hujan, musim yang sebenarnya kurang bersahabat untuk mendaki gunung, kami berangkat pada Jumat malam dan mulai menaiki gunung pada Sabtu pagi. Perjalanan menuju puncak masih mudah, namun begitu sampai puncak, hujan tak berhenti mengguyur saya dan tim saya. </p>
<p>Kami tidak sempat menikmati puncak Gunung Gede karena hujannya yang deras dan tertutup kabut. Kami hanya melewati puncak untuk turun menuju alun-alun Surya Kencana. Dalam perjalanan turun menuju Surya Kencana, malam sudah tiba, kami menuruni gunung seperti menurunin sungai berbatu yang berarus karena derasnya hujan. Dengan cahaya yang hanya berasal dari senter kami, kurang lebih 2 jam kami menuruni puncak menuju Surya Kencana.</p>
<p>Akhirnya kami tiba di Surya Kencana, ternyata perjuangan tak berhenti hanya sampai disitu. Hujan pun masih terus mengguyur, kami saling membantu membangun tenda dengan menggigil karena derasnya hujan yang disertai dengan angin yang kencang. Kami terpaksa masuk tenda dengan keadaan basah dan dengan kondisi tenda yang tidak layak ditiduri, karena setiap sudutnya diisi dengan genangan air.</p>
<p>Semalaman angin tak berhenti mencoba merobek tenda kami semua yang bertotal 4 tenda, hingga 1 tenda pun terbang. Tidur lelap pun saat itu hanya menjadi sebuah mimpi. Mungkin malam itu adalah malam terburuk yang pernah saya alami. Pagi hari sekitar pukul 8 pagi,  matahari baru mau memunculkan batang hidungnya dan memberi sedikit kehangatan bagi kami. Angin masih begitu menusuk, namun cahaya matahari berhasil meberi kami kehangatan. Kami nikmati Surya Kencana dengan sejuta pesonanya. Sebelum berangkat pulang menuju Jakarta di siang hari. [Oleh: <strong><a href="http://travel.detik.com/ErmilaKlislinar">Ermila Klislinar</a></strong>]
<p><span style="color: #888888;">[Sumber : <a href="http://travel.detik.com/read/2012/02/08/173737/1837695/1025/4/menaklukan-gunung-gede" target="_blank"><span style="color: #888888;">http://travel.detik.com</span></a> | Rabu, 08/02/2012 | <a href="http://www.facebook.com/kuswandono.tedjosiswojo" target="_blank">kOEszky</a>]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/menaklukan-gunung-gede/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Baluran Tak Cuma Savana</title>
		<link>http://ekowisata.org/baluran-tak-cuma-savana/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/baluran-tak-cuma-savana/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 06:21:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2322</guid>
		<description><![CDATA[Taman Nasional Baluran itu identik dengan savanna, banteng, serta hutan musim dan hutan evergreen-nya. Hal itu dapat dengan mudah diketahui dari banyaknya tulisan di majalah maupun media cetak lain. Padahal Baluran itu ndak hanya cantik di&#160;<a href="http://ekowisata.org/baluran-tak-cuma-savana/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/baluran-tak-cuma-savana/lamun-bama-fm-2/" rel="attachment wp-att-2325"><img class="aligncenter size-medium wp-image-2325" title="lamun-bama-fm" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/lamun-bama-fm1-300x171.jpg" alt="" width="300" height="171" /></a>Taman Nasional Baluran itu identik dengan savanna, banteng, serta hutan musim dan hutan evergreen-nya. Hal itu dapat dengan mudah diketahui dari banyaknya tulisan di majalah maupun media cetak lain. Padahal Baluran itu ndak hanya cantik di atasnya, tapi ia juga cantik di dunia bawah airnya.<br />Salah satunya ditandai dengan masih baiknya keanekaragaman hayati yang terdapat di padang lamun Taman Nasional Baluran. Seperti yang saya alami di padang lamun Pantai Bama. Tempat itu bisa membuat orang ketagihan snorkling di saat airnya pasang, atau jalan-jalan santai saat air laut surut.<br />Saya sendiri belum terlalu sering ngubek-ubek padang lamun Baluran. Paling cuma di seputar Pantai Bama dan sekitarnya sampai ke blok Popongan saja. Dari mulai pertama kali nyemplung di Pantai Bama di akhir tahun 2008, sampai sekarang saya masih agak cukup sering ke sana. Minimal dua kali dalam setahun. Dalam beberapa kali kunjungan itulah saya melihat bahwa biodiversitas fauna akuatik di Bama sungguh luar biasa. Baik dari ikan, crustacea, mollusca, echinodermata, sponge dan juga cnidaria.<br />Antara periode 2008-2011 itu, saya mencatat bahwa sedikitnya terdapat 110 spesies ikan yang sliweran di terumbu karang dan padang lamun Bama. Kemudian ada 25 spesies echinodermata, 28 spesies crustacea dan 54 spesies mollusca. Angka-angka tersebut masih minimal, karena saya yakin sebenarnya masih banyak sekali spesies biota yang belum teramati oleh saya. Terutama sekali crustacea dan mollusca. Untuk dua filum tersebut, yang teramati dan teridentifikasi baru spesies yang ukurannya cukup besar, sementara yang imut-imut belum (termasuk yang epifit dan asosiasi lamun).<br />Biasanya saya memulai pengamatan biota dari garis pantai. Sebentar saja berjalan macam-macam jenis siput, teripang, kepiting dan udang-udangan sudah menyambut. Mungkin yang paling mudah ketemu salah satunya adalah si teripang Holothuria atra yang bentuknya naudzubillah itu. Bulat panjang, ginjur-ginjur menggelikan dan warnanya hitam pula. Kalau terinjak atau kepencet, keluar air dari mulutnya.<br />Di antara daun-daun lamun juga cukup sering ditemui Synapta maculata. Sekilas teripang ini seperti tidak “berdaging”. Kalau diangkat dari air jadi kempis, tapi langsung gemuk lagi kalau dicelupkan.<br />Echinodermata lain yang cukup melimpah adalah bintang laut Archaster typicus. Sebarannya terutama di depan mangrove Pantai Bama yang hanya sedikit ditumbuhi lamun. Individu-individu bintang laut tersebut sering tampak bertumpuk-tumpuk, yang menandakan lagi mating alias kawin. Bintang laut lain yang mencolok adalah si biru Linckia laevigata berlengan lima. Jika sedang beruntung, kadang-kadang juga ketemu sama yang lengannya cuma 4, atau malah 6, dan bahkan 7 lengan.<br />Dari grup Crustacea, paling mudah bertemu dengan rajungan hijau (Thalamita crenata), terutama saat malam hari. Kemudian ada juga kelomang (Diogenes spp), udang-udang Palaemonidae, Menaethius, Liomera, Atergatis, Eriphia dan lain-lain. Nah, sedikit tips dari saya, bila ingin ketemu dengan crustacea unik dan imut, cobalah untuk meng-utek-utek anemon laut atau soft coral yang ukurannya cukup besar. Di sela-sela tentakelnya biasanya ada kepiting Neopetrolisthes maculatus yang bertotol-totol merah atau udang Periclimenes brevicarpalis dan Thor amboinensis. Mereka terlihat sangat cantik.<br />Lanjut lagi, bila beruntung kita bisa ketemu dengan siput imut berwarna-warni alias nudibranch, seperti Phyllidia varicosa dan Phyllidiella pustulosa. Jenis gastropod ukuran besar dengan warna menarik juga melimpah. Contoh yang mudah ditemui adalah Cypraea tigris, Conus marmoreus dan Conus litteratus.<br />Terakhir, saya ingin membagi sedikit renungan-renungan saya. Meskipun diversitas faunanya luar biasa, secara visual saya melihat bahwa di waktu akhir-akhir ini (2010-2011) tampaknya terjadi penurunan kelimpahan jenis-jenis tertentu. Utamanya spesies yang berukuran sedang hingga besar. Sehingga saya sempat merasa sensasi ramainya padang lamun Bama tidak lagi seperti dulu. Meski demikian, saya masih merasa bahwa padang lamun Pantai Bama dan pesisir Taman Nasional Baluran merupakan satu-satunya area padang lamun dengan kondisi baik yang tersisa di pesisir Jawa timur.<br />Nah, agar kita bisa turut menjaga ekosistem padang lamun, sebaiknya kunjungan ke tempat tersebut dilakukan dengan cara snorkling saat air laut pasang. Sehingga tidak langsung menginjak tegakan lamun dan juga tidak menginjak biota yang hidup dan ber-sliweran di antaranya. Jika terpaksanya melakukan kunjungan saat surut, sangat disarankan untuk hati-hati dalam melangkah. Pilih area yang tidak bervegetasi sebagai pijakan kaki sehingga tidak mencelakai biota dan diri sendiri.<br />Demikian pengantar pengamatan ekosistem padang lamun dari saya. Selamat mengamati dan salam biodiversitas.</p>
<pre><span style="color: #888888;"><em>[sumber : muzaki F@www.fobi.web.id|@lfi|13022012]</em></span>
</pre>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/baluran-tak-cuma-savana/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mount Rinjani in Lombok closed for Mountain Climbing until 31 March</title>
		<link>http://ekowisata.org/rinjani_closed/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/rinjani_closed/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Feb 2012 06:06:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2345</guid>
		<description><![CDATA[The Management of Mt. Rinjani National Park in Lombok, West Nusatenggara has announced that due to prevailing heavy rains and strong winds, mountain climbing on Mt Rinjani on the island of  Lombok is considered unsafe&#160;<a href="http://ekowisata.org/rinjani_closed/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><img title=" " src="http://cdn.indonesia.travel/media/images/upload/news/Rinjani%20News.jpg" alt="" width="288" height="192" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>The Management of <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/256/mount-rinjani-national-park" target="_blank"><strong>Mt. Rinjani National Park</strong></a> in <a href="http://www.indonesia.travel/en/destination/478/lombok-alluring-island-east-of-bali" target="_blank"><strong>Lombok</strong></a>, West Nusatenggara has announced that due to prevailing heavy rains and strong winds, mountain climbing on Mt Rinjani on the island of  Lombok is considered unsafe and that , therefore, <strong>climbing this most prominent volcano in Lombok is temporarily closed </strong>for all mountain climbers <strong>starting 5 January to 31 March 2012</strong>.</p>
<p>Last year in 2011, some 12, 218 foreign and domestic tourists climbed Rinjani, of whom 8,032 were international tourists. The respite from visitors will also allow nature on the mountain to recover to its former glory after nine months of pressure from mountain climbers.</p>
<p>The Mount Rinjani National Park Management has two years running won the award for Best Community Managed Ecotourism destination presented by the Ministry for Tourism and Creative Economy.</p>
<p>Additionally, Mt. Rinjani National Park has been chosen as one of the 15 Destination Management Organizations (DMOs) to be established in Indonesia by 2014.</p>
<p><span style="color: #888888;">[sources: <a href="http://indonesia.travel/en/news/detail/641/mount-rinjani-in-lombok-closed-for-mountain-climbing-until-31-march" target="_blank"><span style="color: #888888;">www.indonesia.travel</span></a> | 10 Feb 201 | <a href="http://www.facebook.com/kuswandono.tedjosiswojo" target="_blank"><span style="color: #888888;">kOEszky </span></a>]</span> </p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/rinjani_closed/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pakar : Konservasi Alam Perlindungan Terhadap Ekosistem</title>
		<link>http://ekowisata.org/pakar-konservasi-alam-perlindungan-terhadap-ekosistem/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/pakar-konservasi-alam-perlindungan-terhadap-ekosistem/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Feb 2012 06:02:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bird]]></category>
		<category><![CDATA[burung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2342</guid>
		<description><![CDATA[Bogor  (ANTARA News) &#8211; Konservasi alam merupakan upaya perlindungan terhadap sumber hayati dan ekosistem, yang salah satunya dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi, ujar Head of Knowledge Center Burung Indonesia, Yoppy Hidayanto. Dalam surat elektroniknya kepada&#160;<a href="http://ekowisata.org/pakar-konservasi-alam-perlindungan-terhadap-ekosistem/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption alignleft" style="width: 289px"><img src="http://img.antaranews.com/new/2011/02/ori/20110204032821habitathutanmangrove040211-2.jpg" alt="" width="279" height="186" /><p class="wp-caption-text"> </p></div>
<p>Bogor  (ANTARA News) &#8211; Konservasi alam merupakan upaya perlindungan terhadap sumber hayati dan ekosistem, yang salah satunya dilakukan melalui penetapan kawasan konservasi, ujar <em>Head of Knowledge Center</em> Burung Indonesia, Yoppy Hidayanto.</p>
<p>Dalam surat elektroniknya kepada ANTARA, di Bogor, Senin, Yoppy Hidayanto mengatakan suatu kawasan yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia beserta keragaman hayatinya seperti fungsi ekonomis, ekologis, dan estetika, perlu konservasi.</p>
<p>&#8220;Di seluruh dunia, terdapat sekitar 10.000 unit kawasan konservasi dengan luas mencapai 18,9 juta km2 atau 12,7 persen dari areal permukaan bumi. Indonesia sendiri memiliki 521 unit kawasan konservasi dengan luas total 27,2 juta hektar. Luas tersebut, telah memenuhi target rencana strategis Konvensi Keanekaragaman Hayati (<em>Convention on Biological Diversity</em>/CBD) 2002-2010,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Yoppy mengungkapkan luas kawasan konservasi bukanlah ukuran keberhasilan terhadap pelestarian keanekaragaman hayati. Karena, dalam sebuah kawasan konservasi diperlukan keterwakilan fungsi-fungsi habitat yang unik dan penting.</p>
<p>Selain itu, salah satu aspek kunci dari pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan adalah menjamin aksi konservasi dilakukan pada lokasi dengan prioritas tertinggi.</p>
<p>&#8220;Karenanya, kita perlu juga mengetahui apakah kawasan lindung tersebut berada di lokasi yang tepat, dan bagaimana kondisi ekologi kawasan tersebut,&#8221; kata Yoppy.</p>
<p>Yoppy menambahkan, burung merupakan indikator penting dalam menentukan daerah-daerah prioritas pelestarian alam. Karena, satwa ini hidup di seluruh habitat daratan di seluruh dunia, peka terhadap perubahan lingkungan, dan taksonomi serta penyebarannya telah cukup diketahui.</p>
<p>Sebagai indikator penting, kekayaan dan keragaman burung dapat digunakan sebagai dasar perbandingan antar daerah untuk menentukan prioritas utama konservasi.</p>
<p>&#8220;Sebagai gambaran, Burung Indonesia telah mengidentifikasi 227 Daerah Penting Bagi Burung (DPB). Daerah-daerah itu merupakan kawasan prioritas konservasi yang menjadi daerah kunci bagi pelestarian burung-burung terancam punah dan endemik beserta keragaman hayatinya,&#8221; katanya.</p>
<p>Namun, lanjut dia, dari jumlah tersebut hanya sekitar 58 persen DPB saja yang terletak dalam jaringan kawasan konservasi. Selebihnya, tersebar di wilayah hutan alam produksi.</p>
<p>Menurut Yoppy, efektivitas pengelolaan kawasan konservasi harus menjadi fokus utama perhatian Pemerintah Indonesia. Mengingat, keterbatasan pendanaan, kualitas sumber daya manusia, serta sarana dan prasarana pengelolaan yang belum memadai merupakan serangkaian masalah yang belum terselesaikan hingga kini.</p>
<p>Untuk setiap hektare kawasan konservasi, Pemerintah Indonesia baru memiliki anggaran sekitar 2,35 dollar AS. Sementara, Pemerintah Amerika Serikat telah menganggarkan 76,12 dollar AS per hektarenya.</p>
<p>&#8220;Perlindungan Daerah Penting bagi Burung, sebagai pelengkap kawasan konservasi formal, memerlukan pengembangan pendekatan alternatif dalam bentuk pengelolaan kawasan oleh masyarakat, kawasan konservasi partikelir serta kesepakatan pelestarian dengan pemilik lahan,&#8221; jelasnya.</p>
<p>Pendekatan ini, kata Yoppy, dirasa lebih efektif dari segi pembiayaan serta melibatkan dukungan dari sumber lain.</p>
<p>Pendekatan ini juga memberikan kesempatan yang lebih fleksibel bagi pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan dan dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan angka kemiskinan di kalangan masyarakat sekitar kawasan yang sangat bergantung kepada sumber daya alam yang tersedia.</p>
<p>Selanjutnya kata Yoppy, daerah Penting bagi Burung juga dapat menjadi bagian dari pendekatan yang lebih luas dan terintegrasi bagi upaya konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan yang juga terfokus kepada jenis, habitat dan masyarakat.</p>
<p>&#8220;Harapannya, semua DPB di Indonesia dapat dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat dan pemerintah dengan mengutamakan kelestarian keragaman hayati,&#8221; katanya.</p>
<p>Burung Indonesia, adalah organisasi nirlaba dengan nama lengkap Perhimpunan Pelestarian Burung Liar Indonesia (<em>Bird Life Indonesia Association</em>) yang menjalin kemitraan dengan <em>Bird Life International</em>, Inggris. Burung Indonesia mengarahkan fokus pekerjaan pada pelestarian jenis-jenis burung yang terancam punah dan habitatnya. (ANT)<br />
<em></em></p>
<p><em>Editor: Desy Saputra</em> | COPYRIGHT © 2011</p>
<p><span style="color: #888888;">[sumber: <a href="http://www.antaranews.com/berita/271792/pakar--konservasi-alam-perlindungan-terhadap-ekosistem" target="_blank"><span style="color: #888888;">www.antaranews.com</span></a> | Senin, 15 Agustus 2011 | <a href="http://www.facebook.com/kuswandono.tedjosiswojo" target="_blank"><span style="color: #888888;">kOEszky</span></a>]</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/pakar-konservasi-alam-perlindungan-terhadap-ekosistem/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tanjung Puting, Rumah Kehidupan Liar nan Menakjubkan</title>
		<link>http://ekowisata.org/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 04:07:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agus w</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2328</guid>
		<description><![CDATA[INDONESIA tidak hanya memiliki tempat wisata dengan keunikan budaya, tapi juga destinasi-destinasi pemandangan indah. Salah satunya adalah Tanjung Puting di Kalimantan Tengah. Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan alam&#160;<a href="http://ekowisata.org/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan/tanjung-puting/" rel="attachment wp-att-2329"><img class="alignleft size-medium wp-image-2329" title="Tanjung Puting" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/Tanjung-Puting-300x175.jpg" alt="" width="300" height="175" /></a>INDONESIA tidak hanya memiliki tempat wisata dengan keunikan budaya, tapi juga destinasi-destinasi pemandangan indah. Salah satunya adalah Tanjung Puting di Kalimantan Tengah.</p>
<p>Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP) merupakan objek wisata yang terkenal dengan kekayaan alam dan hewan. Taman nasional ini terletak di semenanjung barat daya Provinsi Kalimantan Tengah. TNTP mempunyai luas 415.040 hektare yang di dalamnya dihuni ratusan jenis flora dan fauna.</p>
<p>Bayangkan Anda adalah penjelajah yang sedang menuju hutan untuk melihat orangutan dan hewan-hewan tropis eksotis lainnya. Dengan ini, Anda akan mulai mengetahui bagaimana TNTP sebenarnya.</p>
<p>Taman berukuran seluas Bali ini merupakan rumah bagi kehidupan liar yang menakjubkan termasuk orang utan yang terkenal di dunia. Taman ini juga rumah bagi monyet, burung, dan hewan liar lainnya, belum lagi tanaman asli hutan itu sendiri. Hutan ini merupakan harta karun yang menarik perhatian sejumlah pengunjung dari berbagai dunia dan dinyatakan sebagai cagar alam pada 1935, menjadikannya taman nasional pada 1982.</p>
<p>Taman ini berada di semenanajung luar laut Jawa. Dari ukuran taman mengartikan bahwa hutan ini memiliki zona habitat yang beragam. Keragaman ini mengartikan taman adalah rumah bagi sejumlah besar makhluk hidup, baik flora dan fauna. Lingkungan hutan menakjubkan membuat tempat ini harus dikunjungi jika Anda penyuka petualangan di alam terbuka.</p>
<p>Orangutan tidak diragukan lagi menjadi penghuni paling dikenal di hutan. Terkenal melalui penelitian orangutan dan program konservasi di pusat penelitian Camp Leakey. Camp Leakey adalah tempat penangkaran orangutan dan lokasi studi berkelanjutan terpanjang dari setiap binatang liar dalam sejarah ilmu pengetahuan. Dengan sekira tiga perempat populasi orangutan di dunia yang hidup di Kalimantan, taman ini adalah tempat yang ideal untuk melihat orangutan yang luar biasa ini di alam liar.</p>
<p>Karena tanaman di TNTP menunjang populasi hewan yang banyak, taman ini menjadi salah satu tempat terpenting di Asia Tenggara untuk pelestarian hewan primata, burung, reptile, dan ikan. Ada beberapa lokasi yang menarik untuk dikunjungi, seperti Tanjung Harapan yang merupakan stasiun pertama dalam proses rehabilitasi orangutan. Lokasi ini berada di hutan sekunder dan hutan rawa yang dilengkapi dengan wisma tamu dan pusat informasi.</p>
<p>Ada pula atraksi budaya berupa Kompetisi Tradisional Rowing pada Mei di Pangkalan Bun. Dan, waktu terbaik untuk berkunjung adalah Juni sampai September setiap tahunnya.</p>
<p>Cara mencapai lokasi, Jakarta-Semarang-Pangkalan Bun dengan pesawat atau dengan kapal laut rute Semarang-Pangkalan Bun. Dengan kendaraan darat, dari Pangkalan Bun ke Kumai sekira 20 menit (8km). Selanjutnya dari Kumai ke Tanjung Harapan menggunakan klotok selama 1,5-2 jam, atau Kumai-Natai Lengkuas selama 4-5 jam. Menggunakan perahu cepat dari Kumai-Tanjung Harapan selama 30 menit-1 jam, dari Kumai-Camp Leakey selama 1,5-2 jam dan dari Kumai ke Natai Lengkuas selama 1,5-2 jam. [Sumber: <a href="http://travel.okezone.com/read/2012/02/14/408/575301/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan">travel.okezone.com</a> | Agus W]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/tanjung-puting-rumah-kehidupan-liar-nan-menakjubkan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Arcopodo yang tersembunyi di Mahameru</title>
		<link>http://ekowisata.org/arcopoda-yang-tersembunyi-di-mahameru/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/arcopoda-yang-tersembunyi-di-mahameru/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 03:51:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Arcopodo]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Semeru]]></category>
		<category><![CDATA[Lumajang]]></category>
		<category><![CDATA[Mahameru]]></category>
		<category><![CDATA[Malang]]></category>
		<category><![CDATA[Pura Mandaragiri]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Bromo Tengger Semeru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2294</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Ini jalur orang tersesat. Korban biasanya hilang disekitar sini setelah turun dari puncak&#8221; &#8211;Ningot&#8211; Dua arca batu itu berdiri berdampingan dalam senyap hutan di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut. Keduanya menghadap ke utara&#160;<a href="http://ekowisata.org/arcopoda-yang-tersembunyi-di-mahameru/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/arcopoda-yang-tersembunyi-di-mahameru/arcopodo-tnbts/" rel="attachment wp-att-2295"><img class="alignleft size-medium wp-image-2295" title="Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas berusaha menyeberangi bekas aliran lahar di lereng Gunung Semeru yang curam di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut saat mencari Arca Kembar atau Arcopodo, 17 November 2011. Arca yang sebelumnya dikabarkan hilang tersebut ditemukan di lereng Gunung Semeru, Lumajang, Jawa Timur (c) Kompas/Totok Wijayanto" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/arcopodo-TNBTS-300x150.jpg" alt="" width="300" height="150" /></a>&#8220;Ini jalur orang tersesat. Korban biasanya hilang disekitar sini setelah turun dari puncak&#8221; &#8211;Ningot&#8211;</p>
<p>Dua arca batu itu berdiri berdampingan dalam senyap hutan di ketinggian 3.002 meter di atas permukaan laut. Keduanya menghadap ke utara sehingga pandangan mata setiap orang yang menatapnya akan mengarah ke Mahameru. Inilah Arcopodo, arca pemujaan tertinggi di Pulau Jawa yang pernah dikabarkan hilang. Arca yang awalnya dianggap sebagai dongeng itu ”ditemukan” mendiang Norman Edwin dan Herman O Lantang dari Mapala Universitas Indonesia pada 1984. Dua tahun kemudian, Norman kembali mendatangi dua arca itu dan menuliskan temuannya di majalah Swara Alam, ”Arca ini sulit dikenali karena kepala dan separuh badannya hilang.” Semenjak itu, keberadaan kedua arca itu tak pernah lagi diketahui. Herman, yang mencoba mencari kembali dua arca ini dalam pendakian tahun 1999, gagal menemukan. ”Di jalur menuju tempat arca itu, saya mendapati jurang pasir yang dalam dan sulit diseberangi. Ketika itu saya sampai jatuh ke dalam jurang sehingga saya memutuskan tidak mengunjungi arca itu,” tulis Herman dalam buku Soe Hok-Gie: Sekali Lagi, 2009. Pos pendakian Arcopodo (2.903 mdpl) sebenarnya masih ada hingga kini dan relatif mudah dicapai dari Pos Kalimati (2.698 mdpl). Namun, Pos Arcopodo yang dikenal sebagai titik pemberhentian sebelum ke puncak Semeru ini hanya berupa dataran seluas sekitar 20 meter persegi, dikelilingi pepohonan dan belasan prasasti untuk menghormati pendaki yang meninggal.Dulu, prasasti untuk menghormati tokoh pergerakan mahasiswa, Soe Hok-Gie, dan rekannya, Idhan Lubis, juga ditempatkan di sini. Namun, tahun 2002, prasasti dua pendaki yang meninggal di Semeru pada 16 Desember 1969 ini dipindahkan ke puncak.Para pendaki yang mencari dua arca di Pos Arcopodo pasti akan kecele. Itulah yang menyebabkan banyak orang mengira arca itu hilang atau dipindahkan.Awalnya, kami juga ragu dengan keberadaan Arcopodo. Namun, Ningot S, anggota Search and Rescue (SAR) Lumajang yang memandu perjalanan, mengisahkan, sekitar tiga tahun lalu dia menemukan dua arca saat mencari pendaki yang hilang. Ningot menyebutkan ciri-cirinya, seperti digambarkan Norman dalam tulisannya. ”Satu arca kepalanya hilang, seperti dipenggal,” kata Ningot.</p>
<p><strong>Jalur tersembunyi</strong></p>
<p>Pagi itu, kami baru saja turun dari Mahameru (puncak Gunung Semeru). Kaki masih berat melangkah, napas pun tersengal. Namun, keinginan untuk menemukan kembali Arcopodo mengalahkan segenap rasa penat.Setelah rehat sejenak di Pos Arcopodo, kami kembali merangkak naik ke arah puncak. Menjelang batas vegetasi (3.092 mdpl), kami menyimpang ke arah timur. Di depan membentang lembah, bekas aliran lahar yang rapuh. Lembah itu menyempit ke Mahameru yang menjulang angkuh, sementara sekitar 20 meter ke arah bawah, jurang dalam nyaris tegak lurus menjadi muara. Kami harus membuat takikan dengan tongkat sebelum menjejak tanah rapuh itu agar tidak tergelincir.Melewati satu halangan, lembah lain yang lebih curam menghadang. Tenaga di titik nadir, tetapi melalui jalur yang sama, nyaris tak mungkin. Satu-satunya jalan maju harus merangkak di bawah rimbun pohon cemara, menyusuri punggungan tebing tipis.Ketika melihat ke bawah, tiba-tiba kami dikejutkan pemandangan sepasang sepatu yang ditinggalkan persis di tubir jurang. Dua sepatu yang terlihat mulus itu seperti sengaja diletakkan. Rasanya tidak mungkin ada pendaki yang meninggalkan sepatu di tengah medan seperti ini. Kami menyeru beberapa kali, tetapi tak ada sahutan.”Ini jalur orang tersesat. Korban biasanya hilang di sekitar sini ketika turun dari puncak. Dia berjalan menyimpang, menuruni lembah ini,” kata Ningot.”Begitu sampai di lembah ini, pendaki yang kelelahan biasanya sudah putus asa dan sulit mencari jalan kembali. Padahal, di bawah jurang sangat curam, yang terkenal adalah Blank 75,” Ningot mengisahkan.Namun, siapa orang yang meninggalkan sepatunya itu? ”Pulang nanti saya akan kembali mengajak teman untuk menyelidiki sepatu ini. Kami harus membawa tali-tali dan peralatan pemanjatan tebing untuk mendekat ke jurang itu,” kata Ningot.Melalui dua lembah lagi, perjalanan berujung ke punggungan tebing. Di rerimbunan pohon cemara, dua arca batu itu berdiri. Selain atap seng yang keropos, dan lantai keramik yang mengalasi, dua arca itu terlihat masih sama seperti yang dipotret almarhum Norman.Dua arca itu rupanya tetap di tempatnya sejak dulu. Namun, Pos Arcopodo yang populer dilalui pendaki ke puncak Semeru yang rupanya dipindahkan. ”Dulu jalan pendakian itu melewati dua arca itu. Sekitar tahun 1979, jalurnya berubah dan tak lagi melewatinya,” kata Sumarto (58), Pemangku Pura Mandaragiri di Senduro, Lumajang.Sumarto tak mau mengungkapkan alasan pemindahan jalur itu. Jalur menuju Arcopodo itu memang seperti jalan rahasia yang dijaga alam dan para pemujanya&#8230;. <strong>(Idha Saraswati/Amir Sodikin)</strong></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/arcopoda-yang-tersembunyi-di-mahameru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menuju Kawah Barujari</title>
		<link>http://ekowisata.org/menuju-kawah-barujari/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/menuju-kawah-barujari/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 03:46:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Danau Segara Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Barujari]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Rinjani]]></category>
		<category><![CDATA[Sembalun Lawang]]></category>
		<category><![CDATA[taman nasional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2298</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Perahu ini dulu dipakai para peneliti dari Belgia tahun 2008-2009&#8243;&#8212;Mutaharlim&#8211; Kaki Gunung Barujari hanya sekitar sepuluh meter dari jangkauan saat perahu karet tiba-tiba terasa kempis. Bergegas kami mendayung mencari tempat untuk menepi lalu meniup perahu&#160;<a href="http://ekowisata.org/menuju-kawah-barujari/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/menuju-kawah-barujari/danau-segara-anakan-tngnrinjani-c-kompas/" rel="attachment wp-att-2299"><img class="alignleft size-medium wp-image-2299" title="Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas menggunakan perahu karet mengarungi Danau Segara Anak usai melakukan pendakian Gunung Barujari (kanan belakang) yang terletak di kaldera Gunung Rinjani (3.726 mdpl), Lombok, Nusa Tenggara Barat, Kamis (29/9/2011). Gunung Barujari (2.376 mdpl) merupakan gunung baru yang muncul di kaldera karena adanya aktivitas vulkanik dan disebut sebagai zona inti Gunung Rinjani. Gunung baru terakhir meletus 2009 dan menciptakan kawah baru di sisi timur.(c)Kompas Images/Fikria Hidayat" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/Danau-segara-anakan-TNGNRinjani-c-Kompas-300x150.jpg" alt="" width="300" height="150" /></a>&#8220;Perahu ini dulu dipakai para peneliti dari Belgia tahun 2008-2009&#8243;&#8212;Mutaharlim&#8211;</p>
<p>Kaki Gunung Barujari hanya sekitar sepuluh meter dari jangkauan saat perahu karet tiba-tiba terasa kempis. Bergegas kami mendayung mencari tempat untuk menepi lalu meniup perahu karet itu. Perjalanan mengarungi Danau Segara Anak kembali dilanjutkan untuk mencari titik pendakian yang memungkinkan ke puncak Gunung Barujari.Pada sebuah teluk di kaki barat kerucut Gunung Barujari (2.376 meter dari permukaan laut/mdpl), kami akhirnya menepikan perahu dan mendaki. Setengah jam pendakian, jalan berujung pada dinding terjal.Tumpukan batu lepas seukuran kerbau itu goyah saat diinjak, memaksa kami turun. Perahu kembali didayung mengitari kaki Barujari untuk mencari jalan lain.Senja telah menjelang. Kami memutuskan kembali ke tenda di seberang danau dan meneruskan pendakian ke Barujari esok paginya. Kabut mulai turun saat kami mulai mendayung. Jarak pandang hanya 5 meter. Permukaan danau yang semula tenang mulai beriak seiring angin senja yang bertiup kencang. Laju perahu tertahan dan ayunan dayung menjadi sangat berat. Tak ada pilihan lain selain mendayung lebih kuat.Tumbuh sebagai anak gunung api dari dalam kaldera Gunung Rinjani purba, hanya ada dua pilihan untuk mencapai Barujari. Pilihan pertama merayapi dinding terjal. Kami mencoret pilihan ini karena terlalu berisiko dan sudah memakan banyak korban. Tebing kaldera itu nyaris tegak dan untuk menyeberanginya tangan dan kaki bertumpu pada rekahan-rekahan kecil. Jika terpeleset, air danau yang dalam sudah menanti.Pilihan kedua dengan menyeberangi danau sedalam 230 meter. Namun, untuk itu, diperlukan usaha tambahan karena berarti harus membawa perahu hingga ke Danau Segara Anak di ketinggian 2.003 mdpl.Sulitnya akses ke Gunung Barujari membuat tak banyak pendaki yang mencapainya. Apalagi, gunung api aktif ini juga merupakan kawasan inti dari Taman Nasional Gunung Rinjani sehingga butuh izin ekstra.Perahu kami sewa dari Pos Pemantauan Gunung Rinjani di Sembalun Lawang. ”Perahu ini dulu dipakai para peneliti dari Belgia tahun 2008-2009,” kata Mutaharlim, kepala pos. ”Tetapi, tak ada pompanya.”Kami memutuskan meniup perahu karet berukuran 2,5 x 1,5 meter itu secara bergantian. Dibutuhkan waktu 30 menit untuk meniupnya. Kami juga membuat pelampung darurat dari kantong plastik yang diisi udara dan dijejalkan di dalam tas punggung.</p>
<p><strong>Impian pendaki</strong></p>
<p>Upaya untuk mencapai Barujari telah menjadi impian para penjelajah sejak dulu. Geolog Belanda, Van Bemmelen, menjadi orang pertama yang mencapai Barujari. Pada 1917, dia menyeberangi Segara Anak menggunakan rakit. ”Mendaki ke puncak Barujari jauh lebih berat dibandingkan dengan mendaki puncak Rinjani,” tulis Bemmelen yang mencapai tepi kawah sisi selatan.Vulkanolog dari Direktorat Geologi (Bandung), Kama Kusumadinata, gagal mendaki Barujari pada 1969. Warga lokal yang mengantarnya gagal membuat rakit, sementara dia tak berani merayapi tebing.Tahun 1992, Heryadi Rachmat, peneliti pada Museum Geologi, mengarungi Segara Anak dengan dua ban dalam truk yang diikat tali. ”Ban di depan diduduki dua orang yang menjadi pendayung,” katanya.Ban di belakang diberi jaring dari tali untuk membawa barang-barang dan dinaiki dua orang. Penyeberangan nekat itu tidak dilengkapi pelampung, dayung pun dibuat dari kayu cemara di tepi danau.”Saya tidak memberi tahu dua porter yang ikut menyeberang bahwa danau itu kedalamanya 230 meter,” ujar Heryadi. Dia baru memberi tahu kedalaman danau itu setelah kembali pada sore harinya. ”Keduanya marah-marah karena merasa ditipu,” katanya.</p>
<p><strong>Gunung aktif</strong></p>
<p>Setelah gagal mendaki pada hari pertama, kami kembali menyeberangi danau esok paginya. Belajar dari pengalaman sehari sebelumnya, saat sore hari Danau Segara Anak berombak dan susah diarungi.Pagi itu kami menyusuri dinding kaldera sebelah utara menuju jazirah yang menghubungkan Barujari dengan kawah Rinjani tua. Satu jam mendayung, perahu merapat di endapan pasir dan batu di jazirah itu. Dari rekahan batuan di kaki Barujari itu, air panas mengucur deras lalu masuk ke Danau Segara Anak.Pendakian dimulai dari sana. Batuan lepas dan kerikil membuat pendakian menjadi berat. Setiap dua langkah, kembali turun satu langkah. Barujari yang kerap meletus membuat tubuhnya labil. Terakhir, gunung ini meletus pada 2009 dan 2010.Sejak dulu, Bemmelen telah mengingatkan, Barujari merupakan gunung api yang aktif. ”Kegiatan kawah Baru ini jauh lebih kuat daripada kawah Gunung Rinjani,” tulisnya.Setelah dua jam mendaki, kami tiba di bibir kawah Barujari yang berasap. Bunyi gemuruh hampir tak berhenti, seiring bebatuan yang berguguran dari dalam kawah Gunung Barujari yang menganga. Suhu panas terasa menguar dari dalam tanah, menambah terik mentari siang itu yang memanggang. Geletar gempa kerap terasa, seiring dengan batuan di dalam kawah yang longsor.Menjelang tengah hari kami bergegas menuju perahu, tetapi terlambat, angin sudah bertiup kencang. Kami terus mendayung, mengeluarkan seluruh tenaga. Di sebuah tanjung di tengah pengarungan, perahu terdorong ke belakang meskipun dayung digerakkan sekuat tenaga.Kami berlindung di teluk kecil, menunggu angin mereda. Namun, semakin sore, angin makin kencang. Tiga kali kami gagal melewati tanjung yang menjadi tikungan angin itu. Perahu terpaksa ditarik dari tepi danau menggunakan tali. Kami berpijak di tepi tebing yang sempit menarik perahu melewati tanjung.Tanjung akhirnya terlewati, tetapi kabut mulai turun. Tenaga terkuras habis. Saat akhirnya perahu merapat ke tenda, sayup-sayup terdengar alunan merdu tembang dalam bahasa Jawa kuno. Di atas batu di tepi danau, pemangku gunung dari Sembalun, Purnipa, duduk bersila sambil mendendangkan <em>Kumambang Pangerumrum</em>. Langit yang semula berkabut tiba-tiba membuka. Angin berhenti. Ah, kenapa tak sedari tadi berdendang, Pak?<strong> (Indira Permanasari)</strong></p>
<p>[sumber : <a href="http://travel.kompas.com/">http://travel.kompas.com</a>|3-02-2012|<a href="http://www.facebook.com/tri.winarni">triwin</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/menuju-kawah-barujari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Burung Migran Memperkaya Fauna di TN Wasur</title>
		<link>http://ekowisata.org/burung-migran-memperkaya-fauna-di-tn-wasur/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/burung-migran-memperkaya-fauna-di-tn-wasur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 04:16:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[bangau]]></category>
		<category><![CDATA[brung air]]></category>
		<category><![CDATA[flyaway]]></category>
		<category><![CDATA[merauke]]></category>
		<category><![CDATA[migrasi]]></category>
		<category><![CDATA[papua]]></category>
		<category><![CDATA[pelikan]]></category>
		<category><![CDATA[Wasur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2287</guid>
		<description><![CDATA[Aneka jenis burung migran menambah kekayaan fauna di Taman Nasiona l Wasur, Merauke, Provinsi Papua. Aneka jenis burung yang bermigrasi dari belahan bumi di bagian utara ke selatan dan sebaliknya setiap tahun, selalu singgah di&#160;<a href="http://ekowisata.org/burung-migran-memperkaya-fauna-di-tn-wasur/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/burung-migran-memperkaya-fauna-di-tn-wasur/aroweli-mycteria-cinerea-rawa-aopa/" rel="attachment wp-att-2288"><img class="alignleft size-medium wp-image-2288" title="ilustrasi : burung bangau langka aroweli (Mycteria cinerea) melintasi TN Rawa Aopa. Rawa seluas 12.000 menjadi syurga 40 species burung air (c) Kompas.comHa menjadi  (14-12-2011)" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/aroweli-Mycteria-cinerea-rawa-aopa-300x153.jpg" alt="" width="300" height="153" /></a>Aneka jenis burung migran menambah kekayaan fauna di Taman Nasiona l Wasur, Merauke, Provinsi Papua. Aneka jenis burung yang bermigrasi dari belahan bumi di bagian utara ke selatan dan sebaliknya setiap tahun, selalu singgah di TN Wasur Merauke sehingga burung-burung itu pun telah menjadi bagian dari kekayaan alam TN Wasur. Banyak orang lebih mengenal Taman Nasional Wasur karena kangurunya. Kanguru itu satu bagian dari kekayaan TN Wasur. &#8221;Sebenarnya TN Wasur adalah satu garis <em>flyway </em>yakni daerah singgah migrasi burung dari Siberia ke Australia. Wasur ini adalah tempat singgah burung-burung yang bermigrasi itu,&#8221; ungkap Dadang Suganda, Kepala Balai Taman Nasional (TN) Wasur Merauke, di Merauke, Papua, Senin (6/2/2012). Dadang menyatakan, pihaknya belum mengetahui persis berapa jenis burung yang biasa singgah di TN Wasur dalam perjalanan migrasi setiap tahun itu. Balai TN Wasur, sejauh ini telah memasang cincin di 14 jenis burung, yang sebagian besar adalah dari keluarga angsa. Migrasi burung dari Australia ke utara yang berlangsung saat datangnya musim dingin di Australia, juga menjadikan TN Wasur tempat transit. Salah satunya adalah jenis burung pelikan. Saat migrasi itu, paling banyak singgah ke TN Wasur pada bulan Agustus-November,&#8221; ujarnya.Bulan Agustus-November kawasan hutan dan rawa di TN Wasur adalah surga bagi berbagai jenis burung migran. Alam TN Wasur menyediakan sumber makanan melimpah, terutama ikan. Saat musim kemarau rawa-rawa di kawasan TN Wasur surut, sehingga berbagai jenis ikan lebih mudah ditangkap.Tidak hanya sebagai tempat singgah, TN Wasur bahkan telah menjadi tempat berkembang biak dan habitat baru. Ada yang menetap dan berkembang biak di TN Wasur, misalnya burung kirik-kirik. Taman Nasional Wasur seluas 413.810 hektar, terbentang di tiga distrik, yakni Sota, Naukenjerai, dan Merauke, di Kabupaten Merauke. Gerbang masuk TN Wasur, tak terlalu jauh dari pusat kota Merauke, hanya 19 kilometer, atau hanya 20 menit menggunakan kendaraan bermotor.</p>
<p>[sumber : <a href="http://regional.kompas.com/">http://regional.kompas.com</a>|6-02-2012|<a href="http://www.facebook.com/tri.winarni">triwin</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/burung-migran-memperkaya-fauna-di-tn-wasur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Swiss Winnasis dan buku &#8220;Birds of Baluran National Park&#8221;</title>
		<link>http://ekowisata.org/swiss-winnasis/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/swiss-winnasis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Feb 2012 03:54:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Profil Teladan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2255</guid>
		<description><![CDATA[Terbitnya buku “Birds of Baluran National Park” di awal tahun 2012, membawa angin segar, menggelitik keingin-tahuan dan tentu saja menjadi decak kagum dan spirit banyak orang. Buku ini memberikan warna tersendiri khususnya di kalangan rimbawan,&#160;<a href="http://ekowisata.org/swiss-winnasis/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="mceTemp">
<dl id="attachment_2262" class="wp-caption alignleft" style="width: 159px;">
<dt class="wp-caption-dt"><a href="http://ekowisata.org/swiss-winnasis/190346_1010870009940_1770711577_14253_6283019_n-2/" rel="attachment wp-att-2262"><img class="size-full wp-image-2262" title="© swiss winasis " src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/02/190346_1010870009940_1770711577_14253_6283019_n1.jpg" alt="swiss" width="149" height="145" /></a></dt>
</dl>
</div>
<p>Terbitnya buku “<strong><em>Birds of Baluran National Park</em></strong>” di awal tahun 2012, membawa angin segar, menggelitik keingin-tahuan dan tentu saja menjadi decak kagum dan spirit banyak orang. Buku ini memberikan warna tersendiri khususnya di kalangan rimbawan, para pecinta burung, pehobi fotografi aves, dan tentu saja kalangan akademisi. Adalah <a href="http://pratapapa81.wordpress.com/">Swiss Winnasis</a>, sebagai motor penggerak disusunnya buku ini. Penulis lain adalah <a href="http://www.facebook.com/#%21/profile.php?id=1267017112">Sutadi</a> dan Achmad Toha, sesama Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) di <a href="http://balurannationalpark.web.id">Taman Nasional Baluran</a>. Ketiga PEH tersebut, pernah membuat buku serupa dalam edisi Bahasa Indonesia, sehingga julukan “<em>The Three Maskentir</em>”akrab menyapa ketiganya.  Pada buku edisi berbahasa Inggris ini, ketiga penulis menggandeng  Richard Noske, seorang warga Australia yang diakui oleh Swiss dan kawan-kawan, lebih jauh berpengalaman dalam hal menulis buku tentang burung dan memiliki akses yang bagus terhadap literatur burung. Sebagaimana diceritakan oleh Swiss, inisiatif untuk menyusun buku sudah terbersit sejak Balai TN Baluran dinahkodai oleh Bapak Kuspriyadi, yang disebut oleh Swiss sebagai seorang “fasilitator”. Koordinator PEH saat itu, Yuyus Sabarno dinilai Swiss sangat “melayani” rekan-rekan PEH. Kondisi nyaman dan penuh kekeluargaan tersebut, menyulut para PEH Baluran untuk memberikan dedikasi terbaik kepada tempat kerjanya. Jadilah, Swiss yang memang sejak masa kuliah memiliki hobi mengamati burung dan fotografi, mengajak beberapa rekannya yaitu Achmad Toha dan Sutadi pada suatu <em>ide gila</em>.  Sesuai pengakuan Swiss, Toha adalah seorang <em>birdwatcher</em> di TN Baluran, sedangkan Sutadi, awalnya tidak mengerti tentang burung. Semangat dan kejujuran Sutadi <em>lah</em> yang selanjutnya membuat Swiss sangat salut dengan sahabatnya ini. Menurut Swiss, Sutadi memiliki semangat juang yang tinggi. Saat diajak ke lokasi, apapun tugas yang diberikan akan dia kerjakan dengan senang hati, mulai dari mempersiapkan logistik, memasak sampai merelakan motornya untuk dipakai di lapangan.</p>
<p>Kebersamaan tersebut, membuat Sutadi sedikit banyak mulai belajar tentang burung dan fotografi, sehingga keduanya sering <em>ngluyur</em> untuk <em>hunting </em>foto burung. Setelah terkumpul beragam foto burung, suatu saat Swiss bilang ke Tedi <em>,”Ted,kita tidak boleh begini terus, kita harus menikah!kita  ga bisa terus-terusan ngumpulin foto aja,harus ada what next dari hasil hunting ini</em>.” Gagasan tersebut menggiring kedua sahabat untuk membuat buku burung Baluran pertama dalam bahasa Indonesia. Edisi bahasa Inggris untuk buku tersebutpun menurut Swiss tidak ada rencana sebelumnya. Awalnya Swiss mengajukan permohonan dana ke NEF untuk mencetak ulang buku burung edisi pertama. Saat bertemu pihak NEF,yaitu tahun 2009, Swiss ditanya apakah buku tersebut akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Spontan, Swiss mengiyakan pertanyaan tersebut. Pertanyaan yang sama juga dilontarkan oleh Kepala Balai TN Baluran, Bapak <a href="http://www.facebook.com/iarinal">Indra Arinal</a>, dan Swiss memberikan jawaban yang sama. Sejak saat itu, Swiss dan kawan-kawan, bekerja keras untuk mewujudkan impian mereka. Berbekal <em>Google Translator</em> dengan sentuhan disana-sini, menjelang pertengahan tahun 2011, teks buku beserta foto-tofo siap diterbitkan. Adapun Richard, menawarkan diri secara sukarela untuk menjadi <em>scientific editor</em>. Tawaran tersebut tidak ditampik, dengan pertimbangan bahwa Richard adalah seorang ornitholog di negaranya, Australia. Richard juga editor kepala, Jurnal Ornitholog Kukila dan juga seorang dosen. Mengingat bahwa deretan huruf yang harus diedit oleh Richard bukanlah dalam hitungan puluhan lembar, maka Swiss dkk menawarkan “bayaran” untuk Richard, bukan dalam bentuk uang namun menjadi penulis ke 4. Akhirnya, ke <em>The Three Maskentir</em> dan satu bule <em>koplak</em> resmi menjadi penulis buku burung edisi kedua bahasa Inggris. Terbitnya buku ke 4 penulis nekad ini, tak lepas dari campur tangan Bapak <a href="http://konservasiwiratno.blogspot.com/">Wiratno</a>, Kepala Sub Direktorat Pemolaan dan Pengembangan pada Direktorat Konservasi Kawasan dan Bina Hutan Lindung, yang berobsesi menerbitkan buku-buku penulis lokal, bertemakan Biodiversitas, Kehutanan, Konservasi atau segala hal yang berhubungan dengan kawasan konservasi.</p>
<p>Apabila buku pertama dalam edisi bahasa Indonesia hanya memuat 100 halaman, maka buku ke dua ini lebih tebal yaitu 270 halaman dengan design cover lebih menarik. Selain itu, <em>design layout</em> menurut Swiss, <em>habis-habisan</em> dalam arti waktu, energy dan ide. Foto yang dimuat adalah foto hasil bidikan ke tiga<em> PEH Baluran</em>, dan selama masih ada ruang kosong semua foto terbaik dikeluarkan. &#8220;Birds of Baluran National Park&#8221; merupakan terbitan kedua setelah &#8220;<a href="http://pratapapa81.files.wordpress.com/2009/11/buku-burung-baluran-2.pdf">Burung-burung Taman Nasional Baluran</a>.&#8221; Terdapat tiga bagian utama dalam buku ini, yaitu (1) penjelasan pola <a href="http://balurannationalpark.web.id/ebook/peta-burung-taman-nasional-baluran-2009/">distribusi</a>, pola terbang, status endemisitas, topologi TN Baluran, dan penjelasan singkat mengenai perilaku avifauna, (2) deskripsi dan gambar spesies yang dikelompokan berdasarkan nama famili, dan (3) tabel hasil pengamatan avifauna. Selain itu, edisi ke dua ini pun terdapat penambahan deskripsi family, diagram<em> flight pattern</em> dan perbandingan ukuran tubuh antar species dalam family tersebut dengan anggota luarnya.</p>
<p>Perjalanan 4 tahun yang melelahkan telah terbayarkan, rasa lega begitu memenuhi ruang dada. Sungguh, suatu kreasi anak bangsa yang membanggakan. Semoga semangat <em>The Three Maskentir</em> tak padam sampai disini, bahkan sebaliknya terus berkobar dan menjadi inspirasi buat seluruh rimbawan Indonesia. Kepada para penulis,semoga perjuanganmu tidak berhenti sampai disini, kami tunggu karya terbaikmu berikutnya!</p>
<p>[teks © PJLK2HL | foto © Swiss |<a href="http://www.facebook.com/tri.winarni"> triwin</a>]</p>
<p>&gt;&gt; <em>unduh buku</em> &#8220;<a href="http://pratapapa81.files.wordpress.com/2009/11/buku-burung-baluran-2.pdf">Burung-burung Taman Nasional Baluran</a>&#8221; <span style="color: #888888;">[pdf ]</span> <em>dan peta</em> &#8220;<a href="http://balurannationalpark.web.id/ebook/peta-burung-taman-nasional-baluran-2009/">distribusi burung Tanam Nasional Baluran</a>&#8220;<span style="color: #888888;"> [pdf]</span></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/swiss-winnasis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atraksi Wisata Bisa Cegah Perdagangan Telur Penyu</title>
		<link>http://ekowisata.org/atraksi-wisata-bisa-cegah-perdagangan-telur-penyu/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/atraksi-wisata-bisa-cegah-perdagangan-telur-penyu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Feb 2012 02:22:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>alfiyan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2125</guid>
		<description><![CDATA[Untuk mengurangi dan menghilangkan perdagangan telur penyu, Balai Kantor Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat punya solusi jitu: atraksi wisata konservasi penyu di kawasan pantai. Menurut mereka, atraksi wisata tersebut secara langsung dapat mengganti aktivitas&#160;<a href="http://ekowisata.org/atraksi-wisata-bisa-cegah-perdagangan-telur-penyu/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/atraksi-wisata-bisa-cegah-perdagangan-telur-penyu/telur-penyu/" rel="attachment wp-att-2126"><img class="alignleft size-medium wp-image-2126" title="telur penyu" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/01/telur-penyu-300x193.jpg" alt="" width="300" height="193" /></a>Untuk mengurangi dan menghilangkan perdagangan telur penyu, Balai Kantor Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatra Barat punya solusi jitu: atraksi wisata konservasi penyu di kawasan pantai.<br /> Menurut mereka, atraksi wisata tersebut secara langsung dapat mengganti aktivitas penjualan telur penyu kepada aktivitas wisata konservasi penyu di kawasan pantai. &#8220;Hal ini sudah dilakukan di Provinsi Bali dengan memanfaatkan kawasan konservasi penyu di daerah pantai menjadi objek wisata yang menarik bagi wisatawan,&#8221; kata staf Konservasi Keanekaragaman Hayati BKSDA Sumbar, Rusdian Ritonga. Dia mengungkapkan, BKSDA Sumbar sedang mengupayakan konsep tersebut, sehingga aktivitas pedagang yang selama ini menjual telur penyu, dialihkan menjadi menjual cendera mata. Sedangkan atraksi wisata penyu dapat juga dikelola masyarakat sekitar pantai atau oleh pedagang, berupa wisata pelepasan tukik.&#8221;Konservasi penyu memang terpusat di satu kawasan, namun untuk pelepasan tukik dapat dilakukan di pantai mana pun,&#8221; katanya. Rusdian mengatakan, wisata pelepasan tukik di kawasan pantai terbukti menjanjikan dan menambah penghasilan ekonomi masyarakat sekitar pantai. Selain itu, wisata pelepasan tukik juga akan mencegah kepunahan penyu dan mendorong peningkatan upaya BKSDA terkait konservasi penyu di Sumbar.<br /> Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Padang juga berencana akan membuat beberapa pulau di teritorial laut daerah itu sebagai kawasan konservasi penyu. Sedangkan untuk pengembangan wisata bahari berupa pelepasan tukik, DKP Padang juga akan membuatnya di Pantai Air Manis bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Padang. Hal itu, menurut Rusdian, sangat mendukung dan dapat menjadi salah satu alternatif mengurangi aktivitas penjualan telur penyu yang marak di Pantai Padang.<br /> Sedikitnya terdapat 22 lapak pedagang yang menjual telur penyu di Pantai Padang, dan telur-telur itu diperoleh dari kawasan di luar Kota Padang, katanya. &#8220;Kita berharap solusi yang dapat saling menguntungkan, baik untuk kelestarian penyu sendiri maupun perekonomian masyarakat sekitar kawasan pantai,&#8221; katanya.</p>
<address><span style="color: #888888;">[Sumber: www.republika.co.id 27012012|@lfi]</span></address>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/atraksi-wisata-bisa-cegah-perdagangan-telur-penyu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

