<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Direktorat PJLKKHL</title>
	<atom:link href="http://ekowisata.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ekowisata.org</link>
	<description>PHKA - Kementerian Kehutanan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 16 May 2012 09:02:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Pantai Baron, Pesona di Pesisir Yogyakarta</title>
		<link>http://ekowisata.org/pantai-baron-pesona-di-pesisir-yogyakarta/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/pantai-baron-pesona-di-pesisir-yogyakarta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 09:02:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Gunung Kidul]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai bawah tanah]]></category>
		<category><![CDATA[Teluk Baron]]></category>
		<category><![CDATA[Wonosari]]></category>
		<category><![CDATA[Yogyakarta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2943</guid>
		<description><![CDATA[Bagi masyarakat Yogyakarta, deretan pantai di pesisir Gunung Kidul merupakan salah satu pilihan untuk menikmati liburan bersama keluarga dan kerabat. Salah satu pantai yang menjadi andalan Kabupaten Gunung Kidul adalah Pantai Baron. Perjalanan sepanjang sekitar&#160;<a href="http://ekowisata.org/pantai-baron-pesona-di-pesisir-yogyakarta/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/pantai-baron-pesona-di-pesisir-yogyakarta/foto-teluk-baron/" rel="attachment wp-att-2944"><img class="alignleft size-medium wp-image-2944" title="foto teluk baron (c) Trie Wien's" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/foto-teluk-baron-300x178.jpg" alt="" width="300" height="178" /></a>Bagi masyarakat Yogyakarta, deretan pantai di pesisir Gunung Kidul merupakan salah satu pilihan untuk menikmati liburan bersama keluarga dan kerabat. Salah satu pantai yang menjadi andalan Kabupaten Gunung Kidul adalah Pantai Baron. Perjalanan sepanjang sekitar 40km menuju Pantai Baron dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan umum yaitu bis dari terminal Yogyakarta menuju Wonosari, dengan kondisi jalan yang cukup bagus. Dari terminal Wonosari, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan bis kecil menuju Kecamatan Tanjungsari, yaitu arah selatan dari Kota Wonosari.  Dibandingkan dengan pantai-pantai disekitarnya yaitu pantai Kukup ,Drini dan Krakal, pantai Baron terlihat lebih istimewa. Dikelilingi bukit-bukit karst, pantai Baron sebenarnya merupakan sebuah teluk. Di teluk ini terdapat pertemuan antara air laut dan air tawar yang berasal dari sungai bawah tanah, yang membentuk sebuah teluk. Disinilah para pengunjung melakukan aktivitasnya, seperti berenang atau sekedar bermain air, memancing, juga <em>tubbing</em>. Airnya yang jernih dan sejuk membuat betah para pengunjung. Beragam fasilitas pengunjung dapat dengan mudah dijumpai disini mulai dari halaman parkir yang luas,pusat informasi,toilet,warung-warung penjual makanan,minuman dan souvernir. Hotel dan penginapanpun dengan beragam <em>rate</em> dapat dengan mudah dijumpai. Di beberapa tempat, terdapat papan petunjuk dan informasi keselamatan bagi pengunjung, karena pada musim-musim tertentu air laut pasang dapat membahayakan pengunjung.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Teks &amp; Foto | PJLKKHL | Triwin]</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/pantai-baron-pesona-di-pesisir-yogyakarta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Warning Bagi Penyelenggara dan Penyelenggaraan Karbon Hutan</title>
		<link>http://ekowisata.org/warning-bagi-penyelenggara-dan-penyelenggaraan-karbon-hutan/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/warning-bagi-penyelenggara-dan-penyelenggaraan-karbon-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2012 04:35:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>anton</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanfaatan Jasa Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2937</guid>
		<description><![CDATA[Dalam upaya mendukung penuh komitmen nasional dalam upaya mitigasi perubahan iklim global melalui optimalisasi peran dan fungsi hutan sebagai pengurang emisi karbon, penyerap CO2 dari atmosfer dan pemelihara sediaan karbon, Kementerian Kehutanan telah menerbitkan Permenhut&#160;<a href="http://ekowisata.org/warning-bagi-penyelenggara-dan-penyelenggaraan-karbon-hutan/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam upaya mendukung penuh komitmen nasional dalam upaya mitigasi perubahan iklim global melalui optimalisasi peran dan fungsi hutan sebagai pengurang emisi karbon, penyerap CO<sub>2</sub> dari atmosfer dan pemelihara sediaan karbon, Kementerian Kehutanan telah menerbitkan <a href="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2011/11/P_20_2012.pdf" target="_blank">Permenhut No. 20/Menhut-II/2012</a> tentang Penyelenggaraan Karbon Hutan. Upaya tersebut juga bertujuan untuk penyelenggaraan kehutanan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat yang berkeadilan dan berkelanjutan melalui optimalisasi aneka fungsi hutan untuk mencapai manfaat lingkungan, sosial, budaya dan ekonomi secara seimbang dan lestari.</p>
<p>Beberapa hal yang perlu menjadi perhatian dalam Permenhut No. 20/Menhut-II/2012 adalah adanya penyempurnaan terhadap Pasal 5 ayat (2), Pasal 5 ayat (4) dan Pasal 5 ayat (5) Permenhut No. 68/Menhut-II/2008 tentang Penyelenggaraan Demonstration Activities Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan dalam kaitannya dengan tata cara permohonan pelaksanaan demonstration activities. Selain itu, terkait dengan hak dan kewajiban penyelenggara karbon hutan, Permenhut No. 20/Menhut-II/2012 juga menyempurnakan Pasal 14 ayat (1) huruf b Permenhut No. 30/Menhut-II/2009 tentang Tata Cara Pengurangan Emisi dari Deforestasi dan Degradasi Hutan (REDD).</p>
<p>Disamping itu, salah satu amanat yang perlu digarisbawahi dan menjadi warning dalam Permenhut No. 20/Menhut-II/2012 ini adalah bahwa pemrakarsa kegiatan demonstration activities <strong>wajib</strong> <strong>melakukan registrasi areal kerjanya</strong> dan <strong>melaporkan kegiatan</strong> demonstration activities <strong>secara berkala kepada Menteri</strong>.</p>
<p>[Teks | Copyright PJLK2HL | Anton &amp; Sondang]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/warning-bagi-penyelenggara-dan-penyelenggaraan-karbon-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Panduan Ijin Usaha Jasa Wisata Alam</title>
		<link>http://ekowisata.org/panduan-ijin-usaha-jasa-wisata-alam/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/panduan-ijin-usaha-jasa-wisata-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 May 2012 01:53:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sondang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanfaatan Wisata Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2896</guid>
		<description><![CDATA[Dalam rangka memenuhi permintaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan jasa wisata alam di kawasan konservasi, dan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan&#160;<a href="http://ekowisata.org/panduan-ijin-usaha-jasa-wisata-alam/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/DSC_0963a1-300x2011.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2933" title="DSC_0963a1-300x201" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/DSC_0963a1-300x2011.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a>Dalam rangka memenuhi permintaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam usaha penyediaan jasa wisata alam di kawasan konservasi, dan sebagai tindak lanjut dari Peraturan Pemerintah No. 36 Tahun 2010 dan Peraturan Menteri Kehutanan No. P.48/Menhut-II/2010 tentang Pengusahaan Pariwisata Alam Di Suaka Margasatwa, Taman Nasional, Taman Hutan Raya dan Taman WIsata Alam serta Peraturan Menteri Kehutanan No. P.4/Menhut-II/2012 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 48 Tahun 2010, telah diterbitkan panduan bagi UPT lingkup Ditjen PHKA untuk memberikan pelayanan usaha penyediaan jasa wisata alam di Kawasan Konservasi dalam bentuk Surat Edaran Dirjen PHKA yaitu <a href="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/01/SE_3_2012_PHKA.pdf" target="_blank">SE. 3/IV-PJLKKHL/2012</a> tanggal 5 April 2012 tentang Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam.</p>
<p>Khusus bagi pemerintah daerah yang dalam wilayah administratifnya terdapat Taman Hutan Raya (Tahura), Format Ijin Usaha Penyediaan Jasa Wisata Alam ini dapat digunakan sementara menunggu diterbitkannya Peraturan Gubernur atau Bupati/Walikota setempat dalam pelayanan perijinan usaha penyediaan jasa wisata alam di kawasan Tahura.</p>
<p>[Teks &amp; Foto | Copyright PJLK2HL | Sondang &amp; Anton]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/panduan-ijin-usaha-jasa-wisata-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Wakatobi Jadi Cagar Biosfer Dunia</title>
		<link>http://ekowisata.org/wakatobi-jadi-cagar-biosfer-dunia/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/wakatobi-jadi-cagar-biosfer-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 May 2012 04:11:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>lana</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2891</guid>
		<description><![CDATA[Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus masalah pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, menetapkan kawasan Taman Nasional (TN) Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai salah satu kawasan cagar biosfer dunia yang ada di Indonesia, tanpa syarat. UNESCO&#160;<a href="http://ekowisata.org/wakatobi-jadi-cagar-biosfer-dunia/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://assets.kompas.com/data/photo/2011/10/04/2311385620X310.jpg" alt="" width="630" /><strong></strong> Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang mengurus masalah pendidikan dan kebudayaan, UNESCO, menetapkan kawasan Taman Nasional (TN) Laut Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), sebagai salah satu kawasan cagar biosfer dunia yang ada di Indonesia, tanpa syarat.</p>
<p>UNESCO menetapkan kawasan TN Wakatobi seluas 1,3 juta hektar menjadi cagar biosfer dunia itu bersama 12 cagar biosfer lainnya di dunia. Penetapan Wakatobi sebagai cagar biosfer dunia itu disepakati pada pertemuan &#8220;Penasihat Internasional Committee untuk Biosphere Reserve Program MAB UNESCO&#8221; ke-18 di Paris tanggal 2-4 April 2012.</p>
<p>Dengan ditetapkannya Wakatobi sebagai cagar biosfer dunia, maka cagar biosfer di Indonesia pada Juli tahun 2012 akan menjadi sebanyak delapan daerah.  Ada tiga kepentingan yang dilindungi UNESCO dalam menetapkan TN Wakatobi sebagai pusat cagar biosfer dunia tersebut, yaitu kearifan lokal masyarakat Wakatobi, kelestarian lingkungan, dan kepentingan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.</p>
<p>Kearifan lokal yang dilindungi di Wakatobi adalah menyangkut tradisi budaya masyarakat dalam memperlakukan alam dan mengambil sesuatu dari alam. Sedangkan kelestarian lingkungan perlu dilindungi karena kawasan perairan laut TN Wakatobi memiliki keragaman terumbu karang dan biota laut yang cukup tinggi dibandingkan dengan kawasan-kawasan lain yang ada di dunia.</p>
<p>Jumlah spesies terumbu karang di perairan laut Wakatobi mencapai 750 spesies dari 850 spesies terumbu karang dunia. Di Laut Karibia yang banyak dikunjungi wisatawan, terutama penyelam, hanya memiliki 50 spesies terumbu karang, sedangkan Laut Merah hanya 300 spesies.</p>
<p>Untuk kepentingan ekonomi yang perlu dilindungi, menurut Hugua, bagaimana masyarakat di kawasan Wakatobi dapat memanfaatkan potensi sumber daya alam yang ada secara berkelanjutan, tanpa mengganggu keseimbangan lingkungan.</p>
<p>Tiga kepentingan tersebut di atas yang mendorong pihak UNESCO menjadikan kawasan perairan laut TN Wakatobi sebagai pusat cagar biosfer dunia.</p>
<p>[sumber:kompas.com/lana]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/wakatobi-jadi-cagar-biosfer-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berwisata Orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting</title>
		<link>http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2012 08:19:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Bandara Iskandar]]></category>
		<category><![CDATA[Kalimantan Tengah]]></category>
		<category><![CDATA[Kelotok]]></category>
		<category><![CDATA[Kotawaringin Barat]]></category>
		<category><![CDATA[Kumai]]></category>
		<category><![CDATA[Orang utan]]></category>
		<category><![CDATA[Pangkalan Bun]]></category>
		<category><![CDATA[Sungai Sekonyer]]></category>
		<category><![CDATA[Taman Nasional Tanjung Puting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2879</guid>
		<description><![CDATA[Perjalanan kali ini tak sesulit yang saya bayangkan. Beranjak dari Jakarta ke Pangkalan Bun, tidaklah harus terbang ke Palangkaraya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah, yang kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat atau bis ke Pangkalan&#160;<a href="http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/img_3875/" rel="attachment wp-att-2880"><img class="alignleft size-medium wp-image-2880" title="wisata orang utan (c) Trie Wien's" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/IMG_3875-199x300.jpg" alt="" width="199" height="300" /></a>Perjalanan kali ini tak sesulit yang saya bayangkan. Beranjak dari Jakarta ke Pangkalan Bun, tidaklah harus terbang ke Palangkaraya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah, yang kemudian dilanjutkan dengan kendaraan roda empat atau bis ke Pangkalan Bun di Kabupaten Kotawaringin Barat, dengan lama perjalanan sekitar 10 jam. Saat ini tersedia maskapai penerbangan langsung dari Jakarta ke Pangkalan Bun setiap hari, yang ditempuh dalam waktu jauh lebih singkat yaitu ±1.30 menit. Tiba di Bandara Iskandar, perjalanan dilanjutkan melalui jalan darat  menuju Pelabuhan Kumai yang berada di tepi muara Sungai Kumai. Dari sini, saya bersama beberapa teman harus naik speed boat menyusuri Sungai Sekonyer selama kurang lebih 2,5 jam. Ya!agenda saya kali ini (15 Nopember 2011) adalah melihat dari dekat kehidupan satwa liar <em>orang </em>utan (<em>Pongo pygmaeus</em>) di Camp Leakay. <em>Speedboat</em> yang saya tumpangi membelah kesunyian belantara Borneo. Beberapa jenis tumbuhan seperti nipah,bakung dan bakau mendominasi di sepanjang kanan kiri sungai. Setelah satu jam perjalanan, speedboat berhenti sejenak di Pos Jaga Seksi Konservasi Wilayah Tanjung Harapan Sungai Sekonyer. Di pos jaga ini, pra pengunjung harus melapor. Di areal pos jaga ini, terdapat beberapa bangunan kayu, yang difungsikan sebagai <em>guest house</em>, demplot tanaman obat dan juga anggrek.</p>
<p>Perjalanan selanjutnya adalah menembus perairan berwarna cokelat pekat, inilah ekosistem rawa gambut yang sangat khas di bumi Borneo. Di sepanjang perjalanan, kami bertemu dengan beberapa kelotok yang membawa wisatawan mancanegara ke tujuan yang sama. Perjalanan dengan kapal kelotok memakan waktu yang lebih lama yaitu sekitar 4 jam dibandingkan dengan speedboat. Kelotok terbagi menjadi dua ruangan utama. Di siang hari, ruang atas akan dipenuhi oleh beberapa kursi dan meja, agar wisatawan dapat dengan santai menikmati pemandangan yang dilalui dan juga dapat melakukan pengamatan. Selama perjalanan tak jarang pengunjung akan dikagetkan oleh kemunculan bekantan dan juga beragam burung. Pada malam hari, ruang ini akan disulap menjadi ruang tidur, yang dilengkapi dengan kelambu. Sementara diruang bawah, akan terbagi menjadi beberapa bagian yang berfungsi sebagai dapur, kamar mandi dan tempat tidur <em>crew </em>kelotok. Setelah perjalanan lebih dari 2 jam, speedboatpun merapat di darmaga Camp Leakey. Kamp ini terletak pada zona pemanfaatan khusus dan telah sangat terkenal sebagai pusat penelitian dan rehabilitasi orang utan pertama di dunia!. Satu hal yang tak dapat saya lupakan. Setelah speedboat tambat, saya dan teman-temanpun menikmati makan siang di <em>shelter</em> tepat di ujung darmaga. Baru beberapa suap, teman disamping saya, yang juga petugas pada Taman Nasional Tanjung Puting, langsung memberi isyarakat kepada kami untuk meninggalkan makanan kami. Betapa kagetnya saya, seekor orang utan besar,yang selama ini hanya saya lihat di televisi, tiba-tiba sudah bergabung dengan kami dan langsung menyambar makan siang kami. Kedatangannya yang tanpa suara sungguh membuat saya takjub. Betapa tidak, dengan berat badannya yang lebih dari 100kg, dia berjalan tanpa menimbulkan suara dengan kecepatan yang luar biasa. Dialah “Siswi”, orang utan betina tertua di Camp Leakay. Akhirnya,semua bekal makan siang kami tinggalkan untuk Siswi. Dalam perjalanan selanjutnya, kami disarankan untuk tidak menyimpan atau mengeluarkan makanan dari tas kami. Kami pun meninggalkan Siswi yang sedang asyik menyantap makan siang berlauk ikan pari dan sambal, menuju ke <em>visitor centre</em> melalui <em>broad walk</em> sepanjang sekitar 100 meter. Beberapa bangunan kayu berdiri berderet dengan visitor centre. Saya sangat terkesan dengan toilet untuk pengunjung yang begitu terawat dan bersih. Sekawanan babi hutan berkeliaran mencari sisa-sisa makanan. Beberapa orang yang ternyata bertugas sebagai <em>ranger </em>sibuk melakukan aktivitasnya masing-masing. Di dalam visitor centre, pengunjung disuguhi berbagai macam display baik foto maupun informasi penting lain terkait dengan sejarah Camp Leakay. Awalnya, kamp ini didirikan oleh Lous Leakay pada tahun 1971 untuk mendukung kegiatan penelitiannya di Suaka Margasatwa Tanjung Puting. Beliau adalah mentor dan juga guru bagi 3 ahli primata yang masih berusia muda yang berambisi untuk menjadi orang yang terkenal di bidangnya. Jane Goodall dan Dian Fossey telah membuktikan ambisinya dan terkenal di dunia dengan mengabdikan dirinya dalam penelitian simpanse dan gorila. Sementara Birute Galdikas, mendedikasikan dirinya pada <em>Orangutan Foundation International</em> (OFI). Camp Leakay juga berfungsi sebagai pusat rehabilitasi orangutan. Sebagian besar orangutan di kamp ini berasal dari <em>Orangutan Care Centre</em> di Pangkalan Bun, yang awalnya dijadikan binatang peliharaan oleh masyarakat.</p>
<p><a href="http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/img_3959/" rel="attachment wp-att-2883"><img class="alignleft size-medium wp-image-2883" title="IMG_3959" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/IMG_3959-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Di kamp ini, lagi-lagi saya dikejutkan dengan ulah Siswi. Saat teman-teman sedang melepas lelah di dalam ruang pertemuan, saya memberanikan diri untuk mengeluarkan kamera ketiba tiba-tiba sepasang ibu dan anak orangutan turun dari pohon dan bermain di halaman kamp. Baru beberapa gambar saya abadikan, mendadak saya merasa ada seseorang yang berdiri disamping saya. Ternyata Siswi!walaupun badan gemetar karena rasa takut Siswi menyerang akan saya, dengan pelan saya berusaha menggapai pintu ruangan, beberapa langkah di depan saya. Sampai saya di dalam ruangan, pintu saya kunci rapat, dan Siswi diam pada tempatnya  hanya memandangi saya.</p>
<p>Waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB, dan semakin banyak wisatawan mancanegara yang berdatangan di Camp leakay. Mereka datang dalam beberapa kelompok, didampingi oleh para pemandu. Ternyata, tidak lama lagi yaitu sekitar pukul 15.00 WIB adalah waktunya memberikan makanan (<em>feeding time</em>) bagi para orangutan. Atraksi inilah yang ditunggu para wisatawan. Tak hanya wisatawan, orang utan pun satu persatu berdatangan ke kamp.  Menjelang <em>feeding time</em>, kamp semakin ramai didatangai orang utan. Tingkah laku orang utan sangat menakjubkan wisatawan yang datang dari berbagai negara dan mereka pun tak luput dari rekaman kamera wisatawan. Adapun Siswi, membuat ulah yang mengundang perhatian wisatawan. Jika orang utan lain asyik bergelantungan di pohon atau bermain dengan anaknya, Siswi berusaha mendekati wisatawan dan berguling-guling di tanah, seperti mengajak bercanda.</p>
<p>Menjelang pukul 15.00 WIB, saya dan semua pengunjung mengikuti langkah kaki <em>ranger</em> menuju <em>feeding ground</em>, yang berjarak sekitar 2 km dari Camp Leakay. Beberapa <em>ranger </em>terdepan menggendong tandanan pisang di ransel besarnya. Dalam perjalanan, kami sempat bertemu dengan beberapa kupu-kupu cantik yang bebas beterbangan di bentangan hutan tropis Kalimantan, sungguh indah!beberapa kupu-kupu hingga di tanah. Menurut petugas taman nasional, itu adalah indikator bahwa di tanah dimana kupu-kupu hinggap, bekas kencing orangutan. Sampailah kami di <em>feeding ground</em>. Di bawah tegakan hutan terdapat panggung kayu yang difungsikan sebagai meja tempat pisang-pisang diletakkan. Sekitar 5 meter dari meja, terbentang tali mengelilingi meja, sebagai pembatas antara orang utan dengan pengunjung. Di lingkaran terakhir, tersedia bangku-bangku bagi pengunjung. Selama <em>feeding time</em>, pengunjung tak boleh menimbulkan suara dan juga merokok, karena dapat mengganggu orangutan. Saya terkesan dengan cara orangutan menikmati hidangan pisang yang disediakan. Tak ada kata berebut diantara mereka. Dengan tertib satu persatu orang utan mengambil jatah mereka. Ibu orang utan akan mengunyah pisangnya terlebih dahulu sebelum akhirnya diberikan kepada anaknya dari mulut  ke mulut, sangat menyentuh! Ibu orang utan sangat sayang kepada anaknya. Sekali melahirkan, orangutan betina hanya melahirkan 1 ekor anak dalam kurun waktu 6 – 7 tahun di alam liar. Dalam waktu pengasuhan yaitu sekitar 5 tahun sampai sang anak mandiri,sang induk tidak menjauhi perkawinan dengan sang pejantan. Di penghujung 16.30 WIB, kami pun meninggalkan <em>feeding ground</em>, dengan harapan orangutan-orangutan itu akhirnya mandiri dan mampu menjalani kehidupan di alam bebas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Informasi lebih lanjut hubungi :</p>
<p>Kantor Balai Taman Nasional Tanjung Puting</p>
<p>Jl. HM. Rafi’i Km.2, Pangkalan Bun 74112, Kalimantan Tengah</p>
<p>Phone/Fax (0532) 23832-29638, e-mail : btntp@yahoo.com</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Teks &amp; Foto | (c) PJLK2HL | <a href="http://www.facebook.com/tri.winarni">triwin</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/berwisata-orangutan-di-taman-nasional-tanjung-puting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Soft Treking di Rinjani Mulai Dari Rp.150.000!Tertarik?</title>
		<link>http://ekowisata.org/soft-treking-di-rinjani-mulai-dari-rp-150-000tertarik/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/soft-treking-di-rinjani-mulai-dari-rp-150-000tertarik/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 06:22:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2835</guid>
		<description><![CDATA[Berkunjung ke Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan pengalaman pertama saya. Meskipun tidak memiliki kesempatan untuk sampai ke Puncak Rinjani, Pulau Lombok memiliki obyek wisata mernaik  lainnya yang dapat dinikmati bagi anda yang memiliki waktu dan&#160;<a href="http://ekowisata.org/soft-treking-di-rinjani-mulai-dari-rp-150-000tertarik/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/soft-treking-di-rinjani-mulai-dari-rp-150-000tertarik/sembalun/" rel="attachment wp-att-2840"><img class="alignleft size-full wp-image-2840" title="sembalun" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/sembalun.jpg" alt="" width="255" height="170" /></a>Berkunjung ke Taman Nasional Gunung Rinjani merupakan pengalaman pertama saya. Meskipun tidak memiliki kesempatan untuk sampai ke Puncak Rinjani, Pulau Lombok memiliki obyek wisata mernaik  lainnya yang dapat dinikmati bagi anda yang memiliki waktu dan dana terbatas. Inilah pilihan saya, <em>soft tracking</em> di Taman Nasional Gunung Rinjani yang berada di jalur pendakian Senaru dan Sembalun.  Jalur pendakian menuju Puncak Rinjani adalah jalur pendakian paling ramai dan sulit dicapai serta memerlukan waktu lebih lama!</p>
<p>Jalur pendakian Senaru merupakan jalur wisata treking yang juga sering dipergunakan sebagai jalur pendakian oleh masyarakat adat yang akan melakukan ritual adat/keagamaan di puncak Rinjani atau Danau Segara Anak. Menuju Senaru, pengunjung dapat menggunakan angkutan umum dari Mataram (Rp 15.000).  Sepanjang jalan menuju Senaru, anda dapat menikmati pemandangan hutan lindung Pusuk dengan kera ekor panjang yang berkeliaran serta pasar tradisional Ancok Bayan yang umumnya hanya tergelar di pagi hari. Tujuan pertama saya ketika sampai di Senaru adalah pos jaga Polisi hutan Taman Nasional Gunung Rinjani.  Disini kita bisa mendapatkan banyak informasi terkait kawasan Rinjani maupun obyek wisata yang ingin dijumpai sesuai minat kita.  Jika anda memilih kunjungan satu hari di Senaru, maka anda dapat mengikuti paket <em>one-day soft tracking</em>.  Jalur yang dilalui dalam paket sehari tersebut adalah melihat desa adat Senaru, dilanjutkan dengan melihat aktivitas masyarakat sekitar dalam bercocok tanam. Selanjutnya adalah menuju dua lokasi air terjun di sekitar Senaru yaitu air terjun Sindang Gila dan air terjun Tierkelep.  Biaya masuk tiket masuk kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani sangatlah terjangkau sebesar Rp 2.500 per orang yang harus dibayarkan di pos jaga, dan Rp 7.500 per orang untuk masyarakat pedesaan yang berfungsi sebagai tour operator lokal.</p>
<p>Tour operator lokal yang dikelola masyarakat setempat juga menawarkan wisata budaya pada paket <em>soft tracking </em>Senaru yaitu untuk menginap dan mengetahui lebih jauh gaya hidup tradisional masyarakat adat Senaru di kampung tradisional.  Lokasi kampung tradisional ini bersebelahan dengan pos jaga.  Di kampung tradisional inilah tempat tinggal <em>Mak Loka</em>, yaitu tokoh masyarakat setempat yang memberi izin bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dengan ritual adat di Rinjani. Selesai melihat-lihat kampung tradisional di Senaru, yang dapat kita lihat adalah aktivitas perempuan Lombok dalam bercocok tanam. Trip ini akan berakhir di 2 lokasi air terjun.  Dipercaya oleh masyarakat bahwa air terjun Sindang Gila merupakan tempat anda untuk melakukan terapi massage dengan memanfaatkan air terjun. Sedangkan di air terjun Tierkelep, anda dapat melakukan aktivitas berendam/berenang.  Paket wisata ini dapat anda bayarkan ke tour operator lokal hanya Rp 130.000 per orang.</p>
<p>Perjalanan satu hari di Senaru tak akan lengkap jika tidak singgah untuk melihat mesjid tertua di Lombok yang dibangun oleh salah satu wali songo.   Mesjid berkapasitas sekitar 40 orang tersebut menjadi saksi sejarah penyebaran agama Islam pertama di Lombok.  Setelah itu, anda bisa kembali ke Mataram atau melanjutkan perjalanan ke jalur pendakian lainnya yaitu di Sembalun. Selain jalur Senaru, jalur Sembalun juga merupakan jalur yang ramai dilalui oleh penggemar wisata tracking menuju puncak Rinjani.  Jalur pendakian ini didominasi oleh padang savana, namun bagi anda yang tertarik dengan paket <em>one-day soft tracking</em>, Sembalun juga menjadi salah satu lokasi menarik untuk dikunjungi. Koperasi masyarakat setempat menawarkan paket wisata mulai dari Rp 150.000 dengan beberapa alternatif objek.  Objek yang paling diminati adalah melihat dan memberi makan sapi liar.  Suatu pengalaman tak terlupakan tentunya bagi anda untuk dapat memberi minum sapi liar dengan menggunakan bambu yang telah diisi air garam. Di Pos Jaga Taman Nasional Gunung Rinjani Sembalun, pemandangan bukit pegasingan menjadi pemandangan menarik selain pesona Rinjani.  Di musim kemarau, masyarakat setempat bermain gasingan khas Lombok.  Pengunjung dapat menikmati dan ikut bermain gasingan dengan membeli gasing ke masyarakat.  Perjalanan satu hari di Sembalun dapat menikmati perkebunan bawang putih, pembuatan tenun sasak dan melihat bunga-bunga liar seperti anggrek di kawasan taman nasional.  Pesona air terjun juga menjadi objek menarik bagi pengunjung.  Di sini anda dapat menyaksikan aliran air Danau Segara Anak yang berwarna putih kebiru-biruan mengalir di air terjun Mayang Putik. Lelahnya perjalanan sepulang dari air terjun dapat terobati dengan melihat kampung adat Lombok Timur.  Kampung tradisional di Sembalun sedikit berbeda dengan di Senaru, yaitu dalam jumlah rumah/KK untuk satu kampung.  Situs kampung tradisional ini terdiri dari 7 rumah dengan fungsi rumah yang berbeda-beda.  Jika dalam satu kepala rumah tangga telah terjadi penambahan keluarga, maka harus memisahkan diri dan membuat satu situs adat lagi.  Dalam perjalanan menuju desa adat, pemandangan kebun bambu di sepanjang jalan menjadi satu pemandangan unik yang hanya ditemui disana, yaitu penanaman bambu secara berkelompok.  Buah tangan menjadi salah satu hal yang tak boleh tertinggal.  Jika anda ingin memiliki souvenir khas Lombok, dalam perjalanan pulang dari Sembalun menuju Mataram, anda bisa singgah untuk melihat pembuatan tenun sasak oleh perempuan Lombok.  Anda berminat membelinya? Tentu bisa! Satu set tenun sasak terdiri dari sarung dan selendang dengan ragam kain serta corak.  Harga 1 lembar/set tenun sasak bergantung pada jenis kain serta corak dari tenun (Rp 200.000 – Rp 600.000) yang tentunya lebih mahal jika dipajang di etalasi toko/mall di Mataram.  Selain tenun sasak, mutiara merupakan buah tangan yang umum diminati.  Bagi wisatawan seperti saya, mutiara air tawar yang murah harga (Rp 5000/gram) sudah memuaskan hati untuk dapat dibagikan ke saudara/teman terdekat. Pengalaman perjalanan ke Taman Nasional Gunung Rinjani akan lengkap dengan menikmati makanan khas Lombok.  Makanan yang wajib anda nikmati adalah ayam taliwang dan plecing kangkung dengan rasa pedas di lidah sehingga membuat anda berpeluh keringat.  Masih banyak lagi ragam makanan khas Lombok yang dapat menggoyang lidah anda.  Demikian pengalaman wisata budaya, treking dan kuliner yang dapat kita nikmati. Jika anda berkesempatan ke Lombok, jangan pernah ragu untuk mencoba pengalaman tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[Teks&amp;Foto|@PJLK2HL|Lanasari]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/soft-treking-di-rinjani-mulai-dari-rp-150-000tertarik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Protokol Nagoya “Akses dan Pembagian Keuntungan atas Pemanfaatan Sumber Daya Genetik”</title>
		<link>http://ekowisata.org/protokol-nagoya-%e2%80%9cakses-dan-pembagian-keuntungan-atas-pemanfaatan-sumber-daya-genetik%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/protokol-nagoya-%e2%80%9cakses-dan-pembagian-keuntungan-atas-pemanfaatan-sumber-daya-genetik%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 05:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sondang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2827</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal, 2 Mei 2012, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung ikut hadir dalam acara Dialog Interaktif bertema “PENGETAHUAN TRADISIONAL DALAM KERANGKA PROTOKOL NAGOYA: Penerima Manfaat dan Pelestarian”, di Hotel Borobudur Jakarta,&#160;<a href="http://ekowisata.org/protokol-nagoya-%e2%80%9cakses-dan-pembagian-keuntungan-atas-pemanfaatan-sumber-daya-genetik%e2%80%9d/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/protokol-nagoya-%e2%80%9cakses-dan-pembagian-keuntungan-atas-pemanfaatan-sumber-daya-genetik%e2%80%9d/photo-dialog-interaktif-300x225/" rel="attachment wp-att-2846"><img class="alignleft size-full wp-image-2846" title="Photo-dialog-Interaktif-300x225" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/Photo-dialog-Interaktif-300x2251.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Pada tanggal, 2 Mei 2012, Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung ikut hadir dalam acara Dialog Interaktif bertema “PENGETAHUAN TRADISIONAL DALAM KERANGKA PROTOKOL NAGOYA: Penerima Manfaat dan Pelestarian”, di Hotel Borobudur Jakarta, yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup sebagai <em>focal point</em> dari dari Konvensi Keanekaragaman Hayati (Convention on Biological Diversity-CBD). Dialog ini merupakan upaya untuk sosialisasi Nagoya Protocol mengenai akses dan pembagian keuntungan atas pemafaatan sumber daya genetik kepada seluruh pemangku kepentingan untuk menghimpun masukan terhadap penyiapan instrument pendukung implementasi Protokol Nagoya di Indonesia. Acara Dialog dibuka oleh Menteri Negara Lingkungan Hidup, Prof. DR. Balthasar Kambuaya, MBA, dan dialog didukung oleh beberapa narasumber dari organisasi non pemerintah dan perguruan tinggi. Hadir dalam dialog tersebut antara lain perwakilan dari pemerintah, perguruan tinggi, organisasi non pemerintah, dunia usaha dan perwakilan dari masyarakat hukum adat.</p>
<p>Protokol Nagoya tentang Akses kepada Sumber Daya Genetik dan Pembagian Keuntungan yang Adil dan Seimbang dari Pemanfaatannya diadopsi di Nagoya, Jepang pada tanggal 30 Oktober 2010. Protokol ini merupakan perjanjian internasional baru yang membangun dan mendukung implementasi Konvensi Keanekaragaman Hayati (KKH), terutama satu dari tiga tujuan KKH, yaitu pembagian yang adil dan seimbang dari keuntungan yang dihasilkan oleh  pemanfaatan sumber daya genetik. Indonesia merupakan salah satu negara yang telah menandatangani Protokol Nagoya pada tahun 2011. Saat ini, proses ratifikasi Protokol Nagoya untuk menjadi Rancangan Undang-Undang Pengesahaan Protokol Nagoya sedang disusun oleh Kementerian Lingkungan Hidup.</p>
<p>Ruang lingkup dari Protokol Nagoya adalah sumber daya genetik dan pengetahuan tradisional yang terkait dengan sumber daya genetik, termasuk keuntungan yang dihasilkan dari pemanfaatanya. Sebagai suatu pengaturan internasional. Protokol ini dapat secara komprehensif dan efektif memberikan perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia dan menjamin pembagian keuntungan bagi Indonesia sebagai negara sumber daya genetik. Selain itu, Protokol Nagoya juga dapat digunakan sebagai instrumen untuk mencegah terjadinya pencurian hayati (<em>biopiracy</em>).</p>
<p>Protokol Nagoya memandatkan kepada setiap negara untuk melakukan upaya dalam rangka memastikan bahwa pengetahuan tradisional terkait dengan sumber daya genetik yang dimiliki oleh masyarakat hukum adat dan komunitas lokal diakses dengan Persetujuan Atas Dasar Informasi Awal (PADIA) serta melibatkan masyarakat hukum adat dan komunitas lokal yang bersangkutan, dan kesepakatan bersama yang telah ditetapkan (pasal 7). Dengan demikian, mekanisme pemberian akses dengan PADIA harus disusun secara efektif melalui <em>participatory approach</em> agar pengampu pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik dapat memberikan persetujuan sesuai dengan mandat Protokol Nagoya.<br />
Protokol Nagoya juga memandatkan agar implementasi protokol sesuai dengan  hukum nasional dengan mempertimbangkan hukum adat, protokol dan prosedur yang berkenaan dengan pengetahuan tradisional yang terkait dengan sumber daya genetik yang berlaku di masyarakat (pasal 12).</p>
<p>Kementerian Lingkungan Hidup, dalam rangka ratifikasi Protokol Nagoya dan mempersiapkan pengaturan nasional bagi implementasinya di Indonesia meminta dukungan dan keterlibatan semua pihak, dengan memberikan masukan yang konstruktif untuk penyusunan pengaturan implementasi Protokol Nagoya di Indonesia, termasuk yang terkait dengan pengetahuan tradisional terkait sumber daya genetik.<br />
Teks lengkap dari Protokol Nagoya dapat ditemukan di www.cbd.int/abs/text/</p>
<p>[Teks&amp;Foto@PJLKKHL|son]<br />
[sumber:www.menlh.go.id|son]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/protokol-nagoya-%e2%80%9cakses-dan-pembagian-keuntungan-atas-pemanfaatan-sumber-daya-genetik%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Komentar Publik terhadap Penyelenggaraan Karbon Hutan</title>
		<link>http://ekowisata.org/komentar-publik-terhadap-penyelenggaraan-karbon-hutan/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/komentar-publik-terhadap-penyelenggaraan-karbon-hutan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 May 2012 04:38:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>sondang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Lain-lain]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2816</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu isi dari Minutes of meeting Konsultasi Publik Penyelenggaraan Karbon Hutan, yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2012 di Hotel Santika-Jakarta yaitu memberikan kesempatan kepada para pihak untuk menyampaikan masukan dan saran bagi peraturan&#160;<a href="http://ekowisata.org/komentar-publik-terhadap-penyelenggaraan-karbon-hutan/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Salah satu isi dari <em>Minutes of meeting</em> Konsultasi Publik Penyelenggaraan Karbon Hutan, yang dilaksanakan pada tanggal 18 April 2012 di Hotel Santika-Jakarta yaitu memberikan kesempatan kepada para pihak  untuk menyampaikan masukan dan saran bagi peraturan menteri tentang Penyelenggaraan Karbon Hutan dengan batas waktu penyampaian tanggal 25 April 2012.  Sampai dengan tanggal 27 April 2012, hanya terdapat 3 orang pemberi masukan/saran yang disampaikan melalui email: jasling.pjlkkhl@gmail.com.  Tim Penyusun Penyelenggaraan Karbon Hutan memberikan apresiasi bagi pihak-pihak yang telah memberikan masukan konstruktif terhadap peraturan menteri tersebut.  </p>
<p>Pencermatan dilakukan terhadap masukan/saran, dan beberapa saran dan masukan dari para pihak, sebenarnya telah diakomodasi pada permenhut, karena sudah menjadi substansi pada beberapa pasal Permenhut tentang penyelenggaraan karbon hutan.</p>
<p>Masukan/saran dan akomodatif terhadap Permenhut Penyelenggaraan karbon hutan dapat di klik  pada lampiran berita ini. [teks|PJLKKHL©Son]<br />
<a href='http://ekowisata.org/komentar-publik-terhadap-penyelenggaraan-karbon-hutan/saran-dan-akomodatif-penyelenggaraan-karbon-hutan-4/' rel='attachment wp-att-2822'>Saran dan Akomodatif Penyelenggaraan karbon hutan</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/komentar-publik-terhadap-penyelenggaraan-karbon-hutan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menapak Puncak Gunung Api Tertinggi</title>
		<link>http://ekowisata.org/menapak-puncak-gunung-api-tertinggi/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/menapak-puncak-gunung-api-tertinggi/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 03:54:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triwin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[kaldera Gunung Tujuh]]></category>
		<category><![CDATA[Kayu Aro]]></category>
		<category><![CDATA[Kerinci]]></category>
		<category><![CDATA[Kersik Tuo]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[Van Bemmelen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2780</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya datang harapan, Jumat (2/3/2012) dini hari, Shelter II, 3.071 meter di atas permukaan laut. Hujan dan angin yang mendera sepanjang siang hingga malam telah berhenti, langit cerah berbintang. Suhu 5 derajat celsius masih tertahankan&#160;<a href="http://ekowisata.org/menapak-puncak-gunung-api-tertinggi/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong></strong><a href="http://ekowisata.org/menapak-puncak-gunung-api-tertinggi/kerinci/" rel="attachment wp-att-2781"><img class="alignleft size-medium wp-image-2781" title="Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas mencapai puncak Gunung Kerinci, Jambi, Jumat (2/3/2012). Gunung Kerinci yang berbentuk strato vulkano, mempunyai karakter letusan bersifat eksplosif, diselingi dengan adanya aliran-aliran lava. (c)kompas" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/kerinci-300x150.jpg" alt="" width="300" height="150" /></a>Akhirnya datang harapan, Jumat (2/3/2012) dini hari, Shelter II, 3.071 meter di atas permukaan laut. Hujan dan angin yang mendera sepanjang siang hingga malam telah berhenti, langit cerah berbintang. Suhu 5 derajat celsius masih tertahankan karena angin tak berembus. Puncak Kerinci, 3.805 meter di atas permukaan laut, sudah di depan mata. Inilah puncak gunung api tertinggi di Nusantara. Sulit membayangkan, gunung api yang menjulang ini muncul dari kedalaman cekungan bumi, sebagaimana disebutkan geolog Belanda, Van Bemmelen (1949). ”Gunung Kerinci muncul dari dalam cekungan besar yang merupakan rangkaian Sesar Besar Sumatera,” tulis Bemmelen. Hingga awal abad ke-19, kawasan Kerinci masih menjadi misteri bagi kolonial Belanda ataupun Inggris. ”Lembah Kerinci belum diketahui orang Eropa karena letaknya jauh di pedalaman,” tulis William Marsden dalam bukunya, The History of Sumatra (1783). Padahal, jejak kehidupan di kawasan ini sebenarnya sudah sangat tua. Jejak itu berupa batuan megalitik berukir dan tempayan kubur yang berserakan di sepanjang lembah Kerinci.</p>
<p><strong>Pendakian<br /></strong><br />Dari hamparan kebun teh ”kayu aro” di Desa Kersik Tuo, lembah Kerinci, pendakian menuju puncak gunung api tertinggi di Nusantara itu kami mulai. Jarum jam menunjukkan pukul 10.00 ketika kami memasuki batas rimba. Para porter yang mengangkat ransel seberat masing-masing 30 kilogram segera melesat dan hilang di rimbun hutan Kerinci. Hanya tersisa dua pemandu yang menemani perjalanan menapak lereng gunung yang dirimbuni hutan hujan tropis itu. Midun (28), kepala porter, mengingatkan agar tak terpisah dari rombongan karena hutan di lereng Kerinci ini menjadi salah satu habitat harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae). Pesan itu mengingatkan pada sosok patung harimau pada Tugu Macan di persimpangan Kersik Tuo menuju Batas Rimba. Sorot matanya tajam, mulutnya menyeringai memperlihatkan sepasang taring runcing. Patung harimau itu tampak mengintimidasi. Ia seperti memberi pesan, ”Sayalah raja di gunung ini!” Seiring kian parahnya kerusakan Taman Nasional Kerinci Seblat, konflik antara harimau sumatera dan warga kian kerap terjadi. Berdasarkan data lembaga HarimauKita, dari tahun 1998 hingga 2012 terjadi lebih dari 560 konflik. Konflik terbaru, M Syargawi (32), warga Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Manau, Kabupaten Merangin, Jambi, ditemukan tewas akibat terkaman harimau saat mencari kayu di hutan pada 20 Januari 2012. Memasuki rimbunnya tajuk hutan, kisah itu menghantui benak meski tak ada kabar sebelumnya tentang pendaki Kerinci yang diterkam harimau. Kisah itu berkelindan dengan cerita tentang ”orang pendek” Kerinci yang kerap kami dengar sebelum pendakian. Riuh suara burung dan teriakan monyet mengiringi langkah kami yang tersaruk-saruk dedaunan dan ranting mati. Pepohonan makin rapat, lumut melapisi kulit kayu mencipta suasana mistis. Matahari tak mencapai lantai hutan, mencipta jalanan temaram. Perjalanan dari Pintu Rimba hingga Pos III (2.186 mdpl) masih terhitung ringan karena jalur yang relatif landai dan hanya sesekali menanjak tajam. Setelah beristirahat sejenak, pendakian berlanjut menuju Shelter I (2.518 mdpl) untuk makan siang. <br />Sejak dari sinilah jalan makin menanjak. Terlebih lagi, hujan mengguyur deras, membuat jalur licin dan beban di punggung kian berat. Hutan merapat, pohon-pohon besar menjulang berbalut lumut, membentuk lorong hijau. Kelelahan membuat kami melupakan soal harimau atau ”orang pendek”, berganti menjadi bagaimana secepatnya bisa menyelesaikan perjalanan hingga puncak. Jalan menanjak tanpa ampun. Bentang hutan lumut dan bunga kantong semar menjadi hiburan. Jalur menanjak melalui jalan setapak yang telah menjadi parit yang mengalirkan air deras. Beberapa kali kami terpeleset. Jalur ini juga harus melewati kanopi semak dan dahan-dahan pepohonan sehingga harus berjalan membungkuk. <br />Pantas saja sepanjang pendakian tak sekalipun kami berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Hujan yang kerap mengguyur membuat banyak pendaki menunda pendakian. Akhirnya, bau belerang tercium juga, menandakan kami telah mendekati Shelter II (3.071 m). Setelah mendaki selama sekitar 6,5 jam, kami tiba di shelter ini pukul 16.30 dan membangun tenda di sana. Menginap di Shelter II yang tertutup vegetasi menjadi pilihan terbaik untuk menghindari kemungkinan cuaca buruk, dibandingkan Shelter III (3.291 mdpl) yang terbuka. Malam itu kami tidur berbalut kekhawatiran karena hujan turun deras. Namun, cuaca berubah cerah saat dini hari, sekitar pukul 03.30, ketika kami bersiap mendaki ke puncak. <br />Alam yang bersahabat seperti menghibur pendakian berat, melewati parit sempit sedalam 1,5 meter-2 meter dari Shelter II ke Shelter III. Rute ini kami lewati dengan hati-hati karena licin. Jalur pendakian berupa kerikil lepas yang melorot jika diinjak dan berada di gigir tipis diapit jurang. Di beberapa tanjakan, kami terpaksa harus merangkak karena kemiringan lebih dari 45 derajat dan diembus angin. Pukul 06.00, akhirnya kami sampai pada salah satu atap Sumatera. Di bawah puncak sempit itu, kawah Kerinci selebar 600 meter terus mengepulkan asap. Angin masih memihak dengan menerbangkan asap yang menguar dari kawah menjauh dari tempat kami berdiri. Dari puncak Kerinci, pemandangan amat memesona: kaldera Gunung Tujuh (1.950 mdpl) menyerupai cermin raksasa memantulkan sinar mentari pagi. Namun, keindahan itu dirusak pemandangan gundulnya sebagian lereng Kerinci akibat perambahan hutan yang meraja.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[sumber : http://travel.kompas.com/triwin]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/menapak-puncak-gunung-api-tertinggi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menyulap Hutan Konservasi sebagai Taman Wisata Alam</title>
		<link>http://ekowisata.org/menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam/</link>
		<comments>http://ekowisata.org/menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 May 2012 03:09:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>agus w</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Pemanfaatan Wisata Alam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ekowisata.org/?p=2768</guid>
		<description><![CDATA[Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut) terus menggalakkan pemanfaatan sebagian hutan konservasi di seluruh Indonesia sebagai Taman Wisata Alam (TWA) terbatas. Pemanfaatan kawasan hutan Konservasi sebagai TWA bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan tanpa merusak kawasan konservasi.&#160;<a href="http://ekowisata.org/menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam/">&#187; selengkapnya</a>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://ekowisata.org/menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam/menteri-kehutanan-zulkifli-hasan-_111206223259-161/" rel="attachment wp-att-2770"><img class="alignleft size-medium wp-image-2770" title="menteri-kehutanan-zulkifli-hasan-_111206223259-161" src="http://ekowisata.org/wp-content/uploads/2012/05/menteri-kehutanan-zulkifli-hasan-_111206223259-161-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a>Kementerian Kehutanan Republik Indonesia (Kemenhut) terus menggalakkan pemanfaatan sebagian hutan konservasi di seluruh Indonesia sebagai Taman Wisata Alam (TWA) terbatas. Pemanfaatan kawasan hutan Konservasi sebagai TWA bertujuan untuk memaksimalkan potensi kawasan tanpa merusak kawasan konservasi.</p>
<p>Menteri Kehutanan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan mengatakan, selama ini pemanfaatan hutan konservasi sebagai TWA masih sangat minim. Menhut mengungkapkan dari total 27 juta hektare hutan konservasi di seluruh Indonesia, pemerintah baru bisa mendapatkan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) hanya Rp 15 miliar setahun.</p>
<p>“Ini masih sangat kecil, karenanya akan kita optimalkan 50 taman nasional sebagai TWA,” ujar Menhut ketika mengunjungi hutan konservasi sebagai TWA di Danau Buyan dan Tamblingan, Jumat (27/4).</p>
<p>Tentunya menjadikan hutan  konservasi menjadi TWA tetap sesuai dengan kaidah konservasi tanpa merusak wilayah-wilayah hutan. Pemanfaatan hutan konservasi sebagai TWA, jelas Menhut, sangat diperlukan untuk memberikan manfaat bagi penduduk sekitar, daerah dan pemeliharaan hutan itu sendiri.</p>
<p>“Apabila ada wisatawan maka ada pendapatan masuk dan membantu warga sekitar serta memberikan pemelihaaan hutan konservasi,” ujar Zulkifli.</p>
<p>Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Hutan Lindung Ditjen PHKA Bambang Supriyanto menambahkan anggaran untuk konservasi dan perlindungan hutan hanya Rp1,6 triliun tak sepadan dengan luasan 26,82 juta hektar itu.</p>
<p>Ia mengungkapkan pengundangan investor di taman nasional dan kawasan pelestarian alam ini akan meningkatkan realisasi penerimaan Izin Pengusahaan Pariwisata Alam (IPPA) 2012 lebih dari Rp15,2 miliar yang merupakan capaian tahun lalu. Peningkatan 20 persen, papar Bambang, berarti tahun ini PNBP dari TWA bisa mencapai lebih Rp18 miliar.</p>
<p>Menurut Bambang, sejak dikeluarkannya insentif dan kemudahan pengelolaan pariwisata alam lewat Permenhut No.36/2010, permohonan pengembangan membludak. “Karena banyak proposal yang masuk,” jelasnya. Kini Kemenhut sedang memproses 40 pemohon. Dimana 25 yang sudah mengantongi izin prinsip dan 15 lainnya masih proses.</p>
<p>Bambang juga menyebut upaya Kemenhut menaikan porsi PNBP kehutanan dengan ajuan revisi iuran dan pungutan PNBP sesuai PP No.59/2008. &#8220;Revisi itu akan meningkatkan PNBP kita 2.000 persen untuk 5 tahun kedepan. Revis salah satunya merubah ketentuan iuran pemegang IPPA Rp900 ribu/hektar menjadi minimal Rp5 juta/hektar dan maksimal Rp25 juta/hektar,&#8221; jelas Bambang.</p>
<p>Data dari kemenhut tahun 2011 Kawasan Konservasi di Indonesia yang berpotensi dikembangkan adalah 535 unit kawasan konservasi. yaitu kawasan peyangga cagar alam 249 unit, taman wisata alam 124 unit penyangga suaka marga satwa 77 unit, taman nasional 50 unit, taman hutan raya  21 unit dan Taman Burung 14 unit.</p>
<p>Dari seluruh potensi tersebut hanya beberapa kawasan yang telah memanfaatkan TWA secara optimal dan memberikan PNBP yang cukup besar. Salah satu kawasan hutan konservasi yang digunakan sebagai TWA adalah Taman Nasional Komodo.</p>
<p>Data dari Kemenhut Taman Nasional Komodo, NTT memberikan PNBP sebesar 2,3 miliar per tahun. Taman Nasional lain yang memberikan PNBP yang cukup besar adalah Tangkuban Perahu, Jawa Barat sebesar 1,6 miliar dan Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Jawa Tengah memberikan PNPB sebesar 800 juta per tahun. [sumber: <a href="http://www.republika.co.id/berita/nasional/lingkungan/12/04/28/m35jpu-menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam">republika.co.id</a> | agusw]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ekowisata.org/menyulap-hutan-konservasi-sebagai-taman-wisata-alam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

