Depan » Artikel » Promosi & Pemasaran Konservasi Alam » Macaca Maura, Kera Hitam Endemik Sulawesi Di Taman Nasional...

Macaca maura, Kera Hitam Endemik Sulawesi Di Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung

28 Nov 2011 | EmailKirim Teman

Tak hanya kaya dengan kupu-kupu sehingga mendapat julukan sebagai kerajaan kupu-kupu (The Kingdom of Butterfly), Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung juga masih menyimpan kekhasan yang lain, yaitu kera hitam (Macaca maura). Kera hitam ini merupakan kera endemik Pulau Sulawesi, dengan tinggi rata-rata 50 cm. Yang membedakannya dengan kera jenis yang lain yang biasanya memiliki ekor, maka Macaca maura tidak memiliki ekor. Pada bagian ekor, tubuh tidak terselimuti bulu, namun berupa kulit berwarna pink. Pada kera betina, warna ini lebih tajam dan pada saat kehamilan bagian ini akan membesar dengan warna pink yang semakin tajam. Kera hitam merupakan binatang diurnal, atau aktif pada siang hari. Mereka mengkonsumsi buah-buahan, pucuk daun, biji-bijian, kuncup bunga, dan lain sebagainya. Saat makan, makanan tidak  langsung ditelan, namun akan disimpan beberapa saat di kantung yang berada di bagian leher. Macaca maura hidup dalam kelompok terdiri dari 20 – 25 ekor, dipimpin oleh satu kera terkuat. Sekelompok Macaca hidup dalam wilayah teritori seluas 25 hektar, baik dalam mencari makanan maupun bertempat tinggal. Anggota kelompok atau satu kelompok Macaca dapat keluar dari teritori apabila sumber makanan dan minuman berkurang, sehingga mereka harus mencari ke tempat lain. Saat ini terdapat ratusan kelompok Macaca di taman nasional ini. Keberadaan mereka sangat bergantung kepada ketersediaan sumber makanan dan tempat hidup. Kelestarian Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung adalah jaminan bagi keberlangsungan kehidupan Macaca Maura. Menurut para ahli, jenis kera ini semakin langka. Maka sudah menjadi kewajiban seluruh lapisan masyarakat untuk melestarikannya.

[teks & gambar |PJLKKHL|© tri win]