Depan » Artikel » River Tubbing, Wahana Baru Twa Suranadi, Lombok Barat

River Tubbing, Wahana Baru TWA Suranadi, Lombok Barat

02 Des 2014 | EmailKirim Teman

“Ayo semua berkumpul sebelum kita berangkat ke sungai,” salah satu pemandu memberi komando kepada kami yang masih asik berkemas diri. Bergegas, kami mengerumun hingga membentuk barisan dan mereka mulai menghitung jumlah orang dalam group kami. Ini adalah bagian dari Standard Operating Procedure (sSOP) yang wajib dijalankan pengelola river tubbing, olahraga menghanyutkan diri di sungai dengan menggunakan ban. Sebelumnya, mereka telah memakaikan baju pelampung, pengaman siku tangan dan  tempurung kaki serta helm kepala kepada kami, pengunjung  wahana olah raga air ini. “Pastikan jaket pelampung, penutup siku tangan dan tempurung kaki sudah terpasang kencang. Helm kepala juga mohon diperhatikan, Setelah di sungai nanti, semua wajib hanyut, ingat ya, wajib hanyut. Sampai sungai, nanti akan kami jelaskan cara menggunakan ban nya. Sekarang kita berangkat,” paparnya.

Kami segera mengekor para pemandu menuju sungai, melewati kebun yang dipenuhi pohon buah-buahan seperti durian, kelapa, mangga. Matahari yang lumayan menyengat kulit tubuh rupanya tak meluruhkan semangat para peserta. Apalagi, sehari sebelumnya kami para peserta Workshop PEH BKSDA Nusa Tenggara Barat, seharian berada di dalam ruangan mengikuti kegiatan workshop. Tentulah, berada di alam akan menjadi penyeimbang segala lelah ragawi. Apalagi selama perjalanan menuju sungai, mata kami dimanjakan hamparan sawah yang menghijau dengan latar belakang pegunungan. Langit biru dan beberapa gumpalan awan memperindah lukisan Illahi. Kami seperti kembali ke masa kanak-kanak. Bernyanyi, berceloteh dan bercanda riang sambil menyusuri pematang sawah. Tak berapa lama, kamipun sampai di tepi sungai. Lagi-lagi, pemandu memberi penjelasan sebelum kami menikmati sensasi berada di air.

“Peserta dibagi menjadi dua kelompok ya, masing-masing 15 orang, supaya tidak terlalu padat saat hanyut nanti. Perhatikan cara naik ke ban. Letakkan ban di belakang badan kita, ke dua tangan berpegangan di kanan kiri ban. Lompatkan badan ke belakang sehingga kita berada pada posisi duduk di ban. Tapi sebelumnya, semua harus berendam dulu,”jelas sang pemandu. Kami pun segera menceburkan diri ke sungai, berendam sejenak dan kemudian sibuk menata badan agar pas dan nyaman berada di atas ban. Beberapa teman raut wajahnya langsung mengerut ketika dijelaskan bahwa di perjalanan nanti, kami harus bersiap diri karena akan bertemu dengan beberapa jeram. Wajarlah kalau terselip rasa takut karena kami tidak tahu seberapa dalam jeram yang akan kami jumpai. “Ingat, selamatkan diri sendiri jika terlepas dari ban. Berusahalah berdiri atau berenang, dan abaikan ban yang terhanyut. Jika bertemu batu besar hingga ban tidak hanyut, goyangkan ban sampai ban bisa terhanyut. Nah…kita akan hanyut sepanjang 2 kilometer selama kurang lebih 1 jam,” kembali sang pemandu memberi penjelasan kepada kami.

Teriakan-teriakan kecil terlontar, ketika satu persatu kami dihanyutkan.  Perasaan senang dan kaget  serta sedikit takut berpadu. Namun perlahan rasa takut itu mulai sirna berganti menjadi nyaman tak terkira, ketika kami mulai menikmati asyiknya wisata air ini. Beberapa teman bahkan berusaha untuk terlentang, menghanyutkan diri dengan rileks sambil menikmati gemericiknya air sungai, suasana pedesaan yang tenang dan udara segar yang penuh oksigen. Tawa canda mengiringi petualangan kecil kami. Jeram yang kami takutkan rupanya tak sedalam dan sederas yang kami duga. Entah suatu keberuntungan atau tidak, karena saat itu walaupun sudah memasuki minggu ke tiga November 2014, air sungai masih “dangkal”. Keadaan ini pasti sangat berbeda saat sempadan sungai dipenuhi air. Arus sungai pastinya akan lebih kencang dan jeram-jeram akan lebih dalam dan deras. Walaupaun air tak begitu dalam dan arus tak begitu kencang, saat berada di jeram, sebagian besar dari kami terpental dari ban dan tenggelam sejenak di bawah jeram. Inilah sensasi river tubbing. Tanpa jeram, perjalanan akan hambar. Jangan takut, di setiap jeram akan berjaga para pemandu untuk memberikan pertolongan saat peserta terjungkir atau tenggelam di air. Ya…keselamatan peserta tetap menjadi prioritas mereka. Jalur sepanjang 2 kilometer, terasa sebentar. Karena tak lama kemudian kami sudah berada di garis finish, tepat di bawah jembatan, tak jauh dari Lesehan Taufik, tempat pemberangkatan kami. Hujan langsung mengguyur saat kami sampai di saung Taufik. Dingin yang merambati tubuh segera terhangatkan oleh hidangan jahe panas dan pisang goreng. Di sini, memang tersedia saung lesehan yang siap menyajikan makanan sehat khas Lombok.

River tubbing ini berada tak jauh dari TWA Suranadi, tepatnya di Desa Suranadi, Kecamatan Narmada, Lombok Barat. Suasana pedesaan yang jauh dari hiruk pikuk kebisingan kota, sungai yang jernih, hamparan sawah yang menghijau, sensasi river tubbing yang mengasikkan, ke semua ini telah berhasil memikat hasrat wisatawan untuk mencicipinya. “Beberapa tour operator telah memasukkan river tubbing dalam paket wisata mereka,” ujar Latif, pegawai BKSDA Nusa Tenggara Barat. Ia menjelaskan bahwa river tubbing awalnya merupakan inisiatif BKSDA sebagai upaya pemberdayaan masyarakat di sekitar Taman Wisata Alam Suranadi. “Awalnya kami memberikan bantuan perlengkapan sebanyak 12 unit. Namun sekarang sudah berkembang hingga menjadi 30 unit,” jelas Latif.

Berminat untuk menjajal wisata air ini?. Informasi lebih lanjut, dapat menghubungi pengelola dibawah ini :

Balai KSDA Nusa Tenggara Barat

Alamat      :     Jl. Majapahit 54 B Mataram

Telepon    :     (+62370) 627851

Fax            :     (+62370) 633953

Email        :     bksda_ntb@dephut.go.id

 

[tesk&foto | ©PJLKKHL | 02122014 |triwin&gangga widarma]