Depan » ADB-HOB » Berita » Sustainable Forest And Biodiversity Management In The Heart...

Sustainable Forest and Biodiversity Management in the Heart of Borneo (HoB) of Kalimantan (TA 8331-INO Project) : Biodiversity Ecosystem Services and Socio Economic Status of Punan Adiu Customary Forest and Hutan Desa Nanga Lauk.

17 Jul 2017 | EmailKirim Teman

Pengelolaan Hutan dan Keanekaragaman Hayati secaralestari di Jantung Kalimantan (HoB) –TA 8331-INO Project: Jasa lingkungan yang diperoleh dari Keanekaragaman Hayati dan Keadaan Sosial Ekonomi di wilayah hutan adat Punan Adiu dan Hutan Desa Nanga Lauk.

In the effort to develop Plan Vivo Project Idea Note (PIN) and Project Design Document (PDD) it is required to have based line information on biodiversity ecosystem services (BES) and socio economic status (SES) of the villages which manage the two selected forest areas; customary forest of PunanAdiu and village forest of Nanga Lauk.

Dalam upaya menyusun informasi tentang inisiatif project dan menyusun dokumen tentang desain project Plan Vivo, diperlukanin formasi dasar tentang jasa lingkungan yang diperoleh dari keanekaragaman hayati dan keadaan social ekonomi di desa –desa contoh (Punan Adiu dan Nanga Lauk)  dalam mengelola hutannya; dalam hal ini hutan adat Adiu dan hutan desa Nanga Lauk.   

The objectives of the activities are to understand the socio-economic and biological as well as ecosystem status of the project sites and to identify indicators to be used to monitor project impact.

Tujuan kegiatan inia dalah untuk memahami keadaan social ekonomi dan lingkungan termasu keadaan ekosistem setempat dimana project ini dilaksanakan serta untuk mengidentifikasi indicator yang akan digunakan dalam memonitor dampak dari kegiatan project.

Information on biodiversity and ecosystem was collected through participatory biodiversity assessment (PBA) while the socio-economic was assessed through the focused group discussion (FGD). Both assessments were conducted with four replications in August 2016.  

Informasi tentang keanekaragaman hayati dan social ekonomi diperoleh melalui hasil telaahan partisipasi pengetahuan masyarakat tentang keanekaragaman hayati di wilayah desanya sedangkan data social ekonomi diperoleh melalui diskusi kelompok. Kedua model analisa tersebut dilakukan dengan empat kali ulangan pada bulanAgustus 2016.

The assessment in PunanAdiu indicated that there are at least six types of ecosystems in customary forest; (i) lowland Dipterocarp forest (0-<300 m a.s.l.), (ii) secondary lowland Dipterocarp forest (0-<300 m a.s.l.), (iii) hill and sub-montane Dipterocarp forest (300-<900 m a.s.l.), (iv) secondary hill and sub-montane Dipterocarp forest (300-<900 m a.s.l.), (v) water, and (vi) other ecosystems such as shrub, regrowth, shifting cultivation area, smallholder agriculture and grassland

Hasil telaahan di desa Punan Adiu menunjukkan bahwa sedikitnya ada 6 tipe ekosistem di wilayah hutan adat Adiu yaitu(i) hutan dataran rendah Dipterocarp(0-300 m dpl), (ii) hutan sekunder dataran rendah Dipterocarp (0-<300m dpl), (iii) hutan dataran tinggi dan semi pegunungan Dipterocarp (300-<900 m dpl), (iv) hutan sekunder dataran tinggi dan semi pengunungan Dipterocarp (300-<900 m dpl), (v) perairan dan (vi) ekosistem lainnya seperti tanaman rendah danalang-alang, perladangan, dan rumput-rumputan.

The major ecosystem services in Adiu Customary forest  area consist of three groups (1) provisioning services which include food, water, medicine, wood, wildlife and  NTFP (rattan, fruits, medicinal plants and else), (2) regulating services such as micro climate and hydrological function and (3) cultural services which include legendary site on the top of the Adiu montane as habitat for mystical fish species, a cave where mystical tiger occur, upstream Adiu river and the water fall (see the report of PunanAdiu).

Jasautama yang diperolehdariekosistem di wilayahhutanadatAdiuterdiridaritigakelompokyaitu (I) jasalingkungan yang umumdiperolehsepertisandangdanpangan, air bersih, hidupan liar danhasilhutanbukankayuyaiturotan, buah-buahan, tanamanobatsertaprodukhutanlainnya, (2 )fungsipengaturlingkungansepertiiklimsetempatdanpengaturantata air dan (3) jasa yang diperolehdaribudayasetempatantara lain meliputitempat-tempatbersejarahdan ritual di puncakgunungAdiu yang menjadi habitat ikantertentu, gua-guadimanadipercayaterdapatharimaujadian, sertahulusungaiAdiudan air terjunnya (LihatlaporanPunanAdiu).  

On the other site, village of forest of Nanga Lauk suggests to have seven ecosystem types which cover of (i) peat swamp forest, (ii) secondary peat swamp forest, (iii) riparian forest,  (iv) secondary riparian  forest, (v) wetland, (vi) water, and (vii) other ecosystem such as shrubs, shifting cultivation, smallholder agriculture and grassland.

Sementara itu pada hutan desa Nanga Lau kdiperoleh tujuh tipeekosistem yaitu (i) hutan gambut, (ii) hutan gambut sekunder, (iii) hutan sepanjang tepi sungai, (iv) hutan sekunder di tepian sungai,. (v) lahan basah, (vi) perairan, (vii) ekosistem lainnya seperti tanaman rendah dan alang-alang, perladangan dan rumput-rumputan.

The major ecosystem services provided by the forest are provisioning services and regulating services (see Report of Nanga Lauk).

Jasa utama yang diperoleh dari ekosistem di wilayah hutan desa Nanga Lauk adalah jasa lingkungan umumnya diperoleh seperti sandang dan pangan, air bersih dan hasil hutan bukan kayu mulai madu sampai rotan dan jasa pengaturan lingkungan (Silahkan lihat laporan Nanga Lauk).

[teks |©PJLHK |17072017|ts]