Depan » Berita » Talkshow Hkan 2017: Tantangan Wisata Alam Berbasis Hidupan...

Talkshow HKAN 2017: Tantangan Wisata Alam Berbasis Hidupan Liar

10 Agu 2017 | EmailKirim Teman

Mengawali peringatan HKAN 2017 pada hari ke 3, Kamis 10 Agustus 2017, pada pagi hari pukul 08.00 diselenggarakan talkshow tentang Tantangan Wisata Alam Berbasis Hidupan Liar. Talkshow dihadiri oleh Kepala Balai Besar Taman Nasional/Balai Besar KSDA dan Balai Taman Nasional/Balai KSDA dan peserta Jamnas. Sebagai narasumber adalah Helmi (Kepala Balai TN Kutai), Indra Arinal (Copenhagen Zoo), dan Kristianto (Direktorat PJLHK). 54 Taman Nasional dan 123 Taman Wisata Alam di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Kekayaan alam tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai obyek dan daya tarik wisata alam, yaitu wisata alam berbasis hidupan liar baik satwa maupun tumbuhan liar. Dalam konteks ini, satwa liar sebagai obyek wisata, yang dinikmati adalah keberadaannya, suaranya, keindahan tubuh, kebiasaan dan aktivitasnya di alam. Demikian pula dengan tumbuhan liar, yang dinikmati adalah keindahannya. Wisata hidupan liar menjadi tantangan tersendiri saat diterapkan di alam, pada habitat satwa dan tumbuhan. Sehingga diperlukan pengetahuan terkait habitat, pola aktivitas satwa (dari pagi hingga malam dan sebaliknya mulai dari makan, bermain, tidur, dll), musim kawin bagi satwa atau musim bunga bagi tumbuhan, perubahan musim hujan dan kemarau yang berpengaruh terhadap keberadaan dan aktivitas hidupan liar, dan lain sebagainya. Dengan demikian,  wisata alam berbasis hidupan liar tidak bisa didekati atau dikondisikan. Rekaman hidupan liar dalam bentuk foto dan video, biasanya menjadi tujuan utama wisatawan dalam wisata ini. Namun harus diingat bahwa  untuk mendapatkan dokumentasinya harus dilakukan  dari tempat yang aman dan tidak mengganggu satwa liar yang sedang beraktifitas. Dan, sarana dan prasarana tentunya menjadi perhatian penting dalam menarik wisatawan. Hal lain yang perlu mendapat perhatian adalah masyarakat sekitar harus mendapatkan manfaat dari kegiatan wisata ini baik langsung maupun tidak langsung.

Wisata berbasis hidupan liar menjadi tantangan bagi pengelola kawasan, karena harus mengenali potensi hidupan liar yang hidup/tumbuh di kawasannya.  Wisata ini merupakan wisata minat khusus, dimana hanya wisatawan yang memiliki ketertarikan dalam hidupan liar yang menjadi pangsa pasarnya. Untuk menarik perhatian wisatawan, maka diperlukan upaya promosi dan publikasi yang baik dan benar. Kejujuran juga menjadi bagian penting agar pengunjung tidak kecewa saat berada di Taman Nasional dan Taman Wisata Alam. Dalam wisata berbasis hidupan liar, menjanjikan untuk sekedar dapat melihat hidupan liar, akan berdampak signifikan. Sehingga harus dibarengi informasi yang benar dan jujur. Sebagai misal, tidak menjanjikan bahwa wisatawan dapat melihat satwa dengan mudah pada suatu waktu tertentu. 

[teks&foto] ©PJLHK | 10082017 |PJPUB]