Depan » Profil Teladan » Tarsono, Kader Konservasi Alam Terbaik Nasional 2015

Tarsono, Kader Konservasi Alam Terbaik Nasional 2015

26 Agu 2015 | EmailKirim Teman

Pria sederhana kelahiran 10 Juli 1976 ini bukanlah asli orang Siak. Ia menghabiskan pendidikannya hingga tingkat SLTA di Kabupaten Lampung Selatan, Provinsi Lampung. Selanjutnya, merantau dan berwiraswasta di Kabupaten Siak, Riau. Nyatanya, meskipun bukan asli kelahiran Siak, kepeduliannya terhadap alam dan lingkungan Siak tak kalah dari masyarakat asli siak. Kondisi hutan dan lingkungan, termasuk kerusakan ekosistem di daerah aliran sungai Siak membuatnya bergerak dan bertindak untuk membantu menyelamatkannya. Sehingga lingkungan dan alam Kabupaten Siak bermanfaat untuk masyarakat setempat. Tarsono juga merupakan sosok pekerja keras, pemikir dan inspirator bagi lingkungan sekitarnya. Hal ini terlihat dari banyaknya kelompok dan masyarakat yang dibinanya. Individu maupun organisasi banyak yang mengikuti jejak langkahnya.

Bersama LSM Bina Cinta Alam yang dibentuknya, Tarsono banyak melakukan kegiatan di bidang konservasi alam dan lingkungan hidup seperti kampanye dan penghijauan. Bersama komunitasnya dan TNI, ia menanami mangrove di Sungai Apit Kab. Tidak hanya aktif mengelola Kelompok Bina Cinta Alam, Tarsono juga mempunyai beberapa kelompok binaan antara lain Kelompok Mangrove Lestari dan Kelompok Masyarakat Peduli Lingkungan dan Gotong Royong. Kelompok binaan ini aktif melakukan kegiatan konservasi dan lingkungan hidup. Kegiatan konservasi mangrove yang dilakukan mulai dari pembibitan, penanaman dan pemanfaatan mangrove dengan beternak kambing organik dan wisata mangrove. Selain itu, kelompok binaannya juga telah berhasil membangun hutan kota dan mengembangkan usaha lebah madu serta membuat pembibitan gaharu. Kegiatan lain yang telah membantu perekonomian masyarakat adalah pemanfaatan tunggul batang kayu bekas tebangan menjadi barang seni yang bernilai ekonomi dan bermanfaat. Tunggul bekas tebangan didaur ulang menjadi bonsai yang dijadikan sebagai hiasan atau juga tanaman penghijau.

Musim kemarau yang berkepanjangan dan kekurangan sumber air bersih turut menggugah kepedulian Tarsono untuk berbuat dan memperbaiki lingkungan. Tarsono dan Kelompok Bina Cinta Alam mulai mengkampanyekan penanaman pohon Gayam, jenis khas di kawasan melayu dan berasal dari kawasan Malaya timur. Gayam termasuk pohon langka. Keistimewaannya adalah mampu menyerap dan menyimpan air dalam jumlah yang cukup banyak sehingga dapat menjaga ketersediaan air disaat musim kemarau. Tarsono dan kelompoknya menyemaikan bibit pohon Gayam dan membagikan kepada masyarakat untuk ditanam di lingkungan rumah atau kebunnya.

Inovasi lain yang dilakukan oleh Tarsono adalah membentuk dan menjadi direktur Bank Sampah Pelangi yang menjadi tempat penampungan sampah plastik yang dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali. Masyarakat yang menjadi nasabah di Bank Sampah Pelangi hanya cukup menyetorkan sampah-sampah plastik limbah rumah tangganya dan akan diberikan harga tertentu dan diakumulasikan setiap bulannya. Dengan sistem ini masyarakat dapat berperan dalam menjaga kebersihan lingkungan dari sampah plastik serta memperoleh manfaat ekonomi.

[teks&foto |©PJLHK | 26082015 |eka]