Depan » Artikel » Tunak Dan Ritual Pemberkatan Ternak

Tunak dan Ritual Pemberkatan Ternak

04 Feb 2015 | EmailKirim Teman

Mendadak, langkah teman-teman di depanku berhenti. Tak jauh dari kami, berdirilah sebuah pohon besar. Tajuknya sangat lebar dan rindang. Inilah pohon Asam, pohon terbesar di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Tunak. “ Tempat ini namanya Bagik Pondok, tempat pemberkatan kerbau,” jelas Gangga Wardana, PEH BKSDA Nusa Tenggara Barat. Ya, pagi itu medio Desember 2014, kami sedang menyusuri kawasan hutan TWA Gunung Tunak.

Senja menjelang saat kami tiba di rumah Papu Arum, sang Pemimpin Upacara pemberkatan kerbau. Papu dalam bahasa Sasak berarti Bapak, yang kami temui di rumahnya menceritakan bahwa seingat beliau, saat ia masih kecil pohon Asam itu sudah ada dan besarnya sama dengan saat sekarang. Usia Papu Arum saat ini sekitar 70an tahun. Ia pun bercerita soal pemberkatan kerbau, yang sudah menjadi tradisi turun temurun. Papu Arum telah menjadi pemimpin upacara pemberkatan kerbau selama 23 tahun. Menurutnya, warga yang mengikuti upacara tidak hanya berasal dari Desa Mertak, yang berada tepat dipinggiran Gunung Tunak. Namun, warga desa lain yang berada di daerah “selatan” juga ikut. Mereka adalah para pemilik kerbau. Warga Mataram dan sekitarnya menyebut kawasan Tunak sebagai daerah selatan, karena letaknya secara geografis berada di ujung selatan pulau Lombok.

Upacara pemberkatan kerbau dilakukan sehari setelah acara Bau Nyale, sebuah tradisi peninggalan leluhur. Saat Bau Nyale, orang akan berkumpul di sepanjang pantai untuk mencari Nyale, semacam cacing laut. Sesiapa yang makan Nyale, dipercaya akan mendapat keberuntungan dalam hidupnya. Tak hanya warga lokal, wisatawan mancanegarapun ikut meramaikan Bau Nyale, yang dipusatkan di pantai Kuta, tak jauh dari Gunung Tunak. Namun demikian, di tempat lain di sepanjang pantai selatan, orang akan mengerumun mencari Nyale. Biasanya, acara ini jatuh pada tanggal 20 kalender atas, atau pada bulan Februari. Bau Nyale berlangsung selama tiga hari.

Sebelum upacara, para pemilik kerbau akan mendaftarkan jumlah kerbaunya kepada Papu Arum. Tahun 2014, ia mencatat sebanyak 900an kerbau di daerah Selatan. Para lelaki sang pemilik kerbau dan kerbaunya, akan berjalan kaki dari desanya menuju Bagik Pondok. Saat para pemilik mengikuti pemberkatan kerbau, kerbau yang berjumlah ratusan itu digembalakan di kawasan Tunak. Peserta pemberkatan wajib membawa Motosiung yang dipersembahkan untuk penjaga hutan yang dipercaya bermukim di pohon Asam. Sesembahan ini adalah makanan yang terdiri dari beras ketan yang disangrai dengan campuran gula merah dan kelapa parut. Setelah disangrai, sesaji dibungkus pada selembar pelepah pohon Pinang yang telah dikeringkan. Motosiung ini digantung di pohon Asam dalam keadaan sudah dibuka. Bekal lain yang dibawa, akan dimakan ramai-ramai selama pemberkatan. Papu Arum akan memimpin doa-doa, memohon agar ternak-ternak sehat dalam pemeliharaan. Upacara yang telah berlangsung puluhan tahun pada bulan Saffar tahun Hijriah ini dimaksudkan agar ternak mereka terbebas dari penyakit dan pencurian. Penggembalaan dilakukan di Puncak Gunung Raden.

Selain sebagai tempat pemberkatan kerbau, Bagik Pondok juga menjadi tempat tirakat bagi warga yang akan menuju Gunung Raden, tempat yang diyakini warga sebagai tempat keramat.  

Secuil cerita Papu Arum itu, menyiratkan kedekatan emosional warga dengan kawasan Gunung Tunak. Buat mereka, Gunung Tunak adalah kawasan suci yang masih keramat, sehingga harus dijaga.

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi pengelola TWA Gunung Tunak :

BKSDA Nusa Tenggara Barat

Alamat      :     Jl. Majapahit 54 B Mataram

Telpon       :     (+62370) 627851

Fax            :     (+62370) 633953

website : www.mount_tambora.com

[teks&foto | © PJLKKHL | 04022014 | triwin&gangga]