Depan » Berita » Workshop Peringatan Hkan 2017- Part 3

Workshop Peringatan HKAN 2017- Part 3

10 Agu 2017 | EmailKirim Teman

Pengelolaan/Recycle Sampah

Fasilitator : Ditjen Sampah, Limbah dan B3 dan Bambang (IUPSWA PT. Murinda), Trash Bag Community

Pengelolaan Recyce Sampah menjadi salah satu tema hangat yang dibahas dalam workshop tersebut dengan narasumber berasal dari Trashbag Community, yaitu sebuah komunitas yang menggalakkan kampanye Gunung bukan tempat sampah dan mempunyai visi menjadikan gunung-gunung di indonesia bebas sampah. Dengan mengkampanyekan dan menerapkan prinsip zero waste, trashbag community berharap, para penggiat kegiatan alam bebas semakin menyadari pentingnya menjaga kebersihan lingkungan terutama gunung-gunung tempat mereka beraktivitas.

Workshop berjalan dengan menarik, dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan dan sharing pengalaman diri daerah masing-masing tentang bagaimana menangani dan mengelola sampah tidak hanya selama berkegiatan di alam bebas tetapi juga di lingkup rumah tinggal masing-masing. Operasi bersih gunung dan kampaanyepenyadartahuan masih menjadi salah satu kegiatan utama para penggiat alam bebas sebagai upaya menjaga kebersihan gunung.  Salah satu hal yang masih menjadi pekerjaan rumah untuk semua pihak adalah bagaimana pengelolaan sampah yang ada selanjutnya, karena kegiatan ini tidak cukup hanya sampai dibawa turunnya sampah-sampah dari gunung. Untuk itu diperlukan kerjasama dengan semua pihak, demi terwujudnya hutan gunung indonersia bebas sampah.

Kepemanduan Wisata Alam

Fasilitator;  Kisma Donna Wijaya (HPI Banyuwangi) dan Julianti Siregar (Direktorat PJLHK)

Saat ini, industri pariwisata alam semakin diminati masyarakat luas. Kawasan konservasi dengan 54 Taman Nasional dan 123 Taman Wisata Alam, memiliki potensi yang luar biasa dalam industri ini. Keindahan alam, fenomena alam, keindahan tumbuhan dan aktivitas satwa, serta kearifan lokal dan seni budaya setempat, menjadi obyek dan daya tarik wisata alam yang memiliki peluang tinggi untuk dikembangkan. Potensi ODTWA tersebut sudah dikelola untuk tujuan pariwisata alam. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan wisata alam, diperlukan kemampuan kepemanduan bagi para pengelola dan pegiat wisata alam lainnya. Wisatawan saat ini berkunjung ke TN/TWA tidak sekedar melihat keindahan alam. Namun ada hal yang lain yang ingin mereka dapatkan, yaitu pengetahuan tentang obyek yang dilihat. Untuk itulah, interpretasi menjadi bagian penting dari kepemanduan.

Seorang pemandu yang baik akan memiliki pengetahuan tentang obyek wisata yang dikunjungi oleh wisatawan yang mereka dampingi. Pengetahuan tersebut menjadi syarat wajib agar para pemandu dapat menjelaskan obyek wisata tersebut dengan baik, dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari wisatawan. Selain pengetahun, seorang interpreter juga harus memiliki teknik berinterpretasi. Ia harus dapat menjelaskan dengan bahasa yang baik dan benar, dibarengi gesture tubuh yang santun sehingga wisatawan akan merasa puas. Kepuasan ini akan menjadi media promosi bagi wisatawan lain yang disampaikan dari mulut ke mulut, juga melalui media lain.

 [teks&foto] ©PJLHK | 09102017 |PJPUB]